TITIKTEMU.CO - Sebuah video yang memperlihatkan perjuangan siswa dan guru menuju sekolah di daerah terpencil kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Unggahan tersebut dibagikan oleh seorang guru melalui akun Instagram @najib_nadir.
Dalam video itu terlihat perjalanan menuju SD Negeri Terpencil Bainaa Barat, yang berada di Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Untuk bisa sampai ke sekolah, para siswa harus menyeberangi sungai yang cukup lebar tanpa jembatan penghubung.
Minta Pemerintah Bangunkan Jembatan
Dalam keterangan unggahannya, sang guru berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap kondisi akses pendidikan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Viral ‘Wisata Kubangan’ di Purbolinggo Lampung Timur, Anak-Anak Berendam di Jalan Rusak
Ia menuliskan permintaan agar pemerintah membantu merealisasikan pembangunan jembatan. Bahkan, ia menyampaikan jika program Makan Bergizi Gratis (MBG) sulit menjangkau sekolah terpencil tersebut, setidaknya jembatan dapat menjadi solusi utama.
Dalam video itu, sang guru sempat bertanya kepada para siswa yang sedang menyeberangi sungai, mana yang lebih mereka butuhkan—jembatan atau MBG. Anak-anak pun kompak menjawab bahwa mereka lebih membutuhkan jembatan.
Untuk menghindari kesalahpahaman, ia menegaskan bahwa unggahannya bukan untuk menyudutkan pihak mana pun. Ia menjelaskan bahwa pemerintah pusat memiliki berbagai program, termasuk MBG dan pembangunan infrastruktur jembatan. Namun, karena lokasi sekolah sulit diakses oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), program MBG belum dapat menjangkau wilayah tersebut.
Baca Juga: Xi Jinping Sampaikan Ucapan Tahun Baru Imlek 2026 di Beijing, Soroti Ketahanan Ekonomi China
Menurutnya, jika MBG belum bisa terealisasi, maka pembangunan jembatan menjadi kebutuhan mendesak agar akses siswa menuju sekolah lebih aman dan layak.
Sungai Berarus Deras dan Rawan Meluap
Dalam unggahan sebelumnya pada 8 Januari 2026, terlihat para guru harus menyeberangi sungai dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Air sungai berwarna cokelat dengan arus yang cukup deras, membuat mereka harus menenteng sepatu dan tas agar tidak basah.
Sang guru bahkan menuliskan pesan menyentuh kepada murid-muridnya, menggambarkan risiko yang harus dihadapi setiap hari demi mengajar di sekolah tersebut.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran saat musim hujan tiba. Hujan deras berpotensi membuat sungai meluap, sehingga siswa merasa cemas dan tidak tenang saat belajar karena memikirkan kondisi akses pulang pergi ke sekolah.