nasional

Diperingati setiap 11 September, Begini Sejarah Hari Radio Nasional

Selasa, 12 September 2023 | 06:00 WIB
Hari Radio Nasional diperingati setiap 11 September. Ilustrasi (Pixabay.com/fancycrave1)

Delegasi radio yang saat itu mengikuti pertemuan adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto dan Maladi.

Abdulrahman Saleh yang menjadi ketua delegasi menguraikan garis besar rencana pada pertemuan tersebut. Salah satunya adalah mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat mengingat tentara sekutu akan mendarat di Jakarta akhir September 1945. Radio dipilih sebagai alat komunikasi karena lebih cepat dan tidak mudah terputus saat pertempuran.

Baca Juga: Pj Gubernur Dorong Masyarakat Jateng Semangat Berolahraga

Untuk modal operasional, delegasi radio menyarankan agar pemerintah menutut Jepang supaya bisa menggunakan studio dan pemancar-pemancar radio Hoso Kyoku.

Mendengar hal itu, sekretaris negara dan para menteri keberatan karena alat-alat tersebut sudah terdaftar sebagai barang inventaris sekutu.

Namun, di akhir pertemuan Abdulrahman Saleh memberikan solusi dan simpulan antara lain  dengan membentuk persatuan Radio Republik Indonesia sebagai alat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat.

Akhirnya pemerintah menyanggupi solusi dan simpulan tersebut dan siap membantu RRI meski mereka tidak sependapat dalam beberapa hal.

Persatuan Radio Republik Indonesia akan meneruskan penyiaran dari 8 stasiun di Jawa, mempersembahkan RRI kepada Presiden dan Pemerintah RI sebagai alat komunikasi dengan rakyat, serta mengimbau supaya semua hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui Abdulrachman Saleh.

Baca Juga: Rekor Terbesar Sejak 22 Tahun Lalu, Timnas Indonesia U23 Gilas China Taipei

Pada pukul 24.00, delegasi dari 8 stasiun radio di Jawa mengadakan rapat di rumah Adang Kadarusman. Para delegasi yang ikut rapat saat itu adalah Soetaryo dari Purwokerto, Soemarmad dan Soedomomarto dari Yogyakarta.

Lalu Soehardi dan Harto dari Semarang, Maladi dan Soetardi Hardjolukito dari Surakarta, serta Darya, Sakti Alamsyah dan Agus Marahsutan dari Bandung.

Sedangkan dua daerah lainnya, Surabaya dan Malang tidak ikut serta karena tidak adanya perwakilan. Hasil akhir dari rapat itu adalah didirikannya RRI dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya.***

 

Halaman:

Tags

Terkini