BMKG Prediksi El Nino 2026 Bertahan Hingga Awal 2027, Musim Kemarau Indonesia Lebih Kering

photo author
Abi Zahy, TitikTemu.co
- Rabu, 10 Juni 2026 | 18:38 WIB
Ilustrasi BMKG memprediksi El Nino 2026 bertahan hingga awal 2027, memicu musim kemarau lebih kering di Indonesia. (Pixabay/Luis Iranzo Navarro-Olivares )
Ilustrasi BMKG memprediksi El Nino 2026 bertahan hingga awal 2027, memicu musim kemarau lebih kering di Indonesia. (Pixabay/Luis Iranzo Navarro-Olivares )

 

TITIKTEMU.CO - BMKG memprediksi El Nino 2026 akan bertahan hingga awal 2027, yang berpotensi menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering. Fenomena ini diperkirakan akan meningkatkan risiko kekeringan dan dampak negatif lainnya bagi sektor pertanian dan lingkungan.

Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, kondisi ini disebabkan oleh anomali suhu muka laut yang telah mencapai 1,0 derajat Celsius di atas normal. "Fenomena El Nino diperkirakan segera aktif dan berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027," ungkapnya dalam konferensi pers di Jakarta pada 10 Juni 2026.

Dampak El Nino Terhadap Curah Hujan di Indonesia

BMKG menjelaskan bahwa El Nino umumnya berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia, terutama pada periode Juni hingga Januari. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya pasokan air dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta lahan.

Lebih lanjut, Ardhasena menyatakan bahwa peluang El Nino berkembang menjadi kategori moderat mencapai 98 persen, dengan kemungkinan meningkat ke kategori kuat mencapai 62 persen. Kombinasi fenomena ini dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan akan memperburuk kondisi kering di beberapa wilayah Indonesia.

Wilayah Terdampak oleh Musim Kemarau

Berdasarkan pemantauan BMKG, sekitar 198 zona musim atau 31,6 persen wilayah Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau pada Juni 2026. Wilayah yang terdampak mencakup sebagian Sumatra, Kalimantan, Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Pada Juli 2026, sebanyak 66 zona musim lainnya diperkirakan mulai memasuki periode kemarau, terutama di sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sumatera. BMKG juga mencatat bahwa awal musim kemarau tahun ini cenderung datang lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991–2020.

Potensi Kekeringan dan Kebakaran Hutan

Dari sisi curah hujan, mayoritas wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau dengan kondisi di bawah normal atau lebih kering dibandingkan rata-rata. Sebanyak 482 zona musim atau 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami kondisi tersebut.

Wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih kering meliputi sebagian besar Sumatra, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Dengan kondisi ini, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan yang mungkin terjadi.

Demikianlah informasi mengenai BMKG prediksi El Nino 2026 bertahan hingga awal 2027 dan dampaknya terhadap musim kemarau di Indonesia.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Abi Zahy

Rekomendasi

Terkini

X