internasional

Qatar Blokir Roblox Demi Lindungi Anak, Indonesia Juga Ingatkan Bahaya Game Online

Sabtu, 16 Agustus 2025 | 09:45 WIB
Ilustrasi game online anak-anak Roblox yang kini diblokir di Qatar. (Freepik.com)

TITIKTEMU.CO – Pemerintah Qatar resmi memblokir akses ke game online populer Roblox setelah muncul gelombang desakan di media sosial terkait kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anak.

Menurut laporan The Peninsula Qatar pada Kamis, 14 Agustus 2025, aplikasi Roblox memang masih tersedia di Apple App Store dan Google Play Store, namun para pengguna di Qatar tidak lagi bisa masuk ke dalam game.

Pesan error yang muncul bervariasi, mulai dari “tidak ada jaringan internet” di aplikasi mobile hingga keterangan “situs tidak dapat diakses” pada versi web. Meski begitu, hingga saat ini pemerintah Qatar belum memberikan keterangan resmi terkait alasan pemblokiran tersebut.

Baca Juga: Awal Mula Polemik Royalti Musik di Indonesia: Dari Kasus Agnez Mo hingga Protes Ari Lasso

Roblox Bukan Pertama Kali Diblokir

Langkah Qatar bukanlah hal baru. Sebelumnya, China, Turki, dan Oman juga telah melakukan pemblokiran terhadap Roblox. Alasan yang diambil pun serupa, yakni kekhawatiran terhadap konten kekerasan, eksploitasi anak, serta materi yang dinilai tidak pantas.

Sorotan di Indonesia

Isu seputar Roblox juga sempat mencuat di Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, secara terbuka melarang anak-anak memainkan Roblox karena dinilai mengandung banyak adegan kekerasan.

“Yang main blok-blok (Roblox) tadi itu jangan main yang itu ya karena itu tidak baik,” ujar Mu’ti saat kegiatan Kick-off Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah di Jakarta, 4 Agustus 2025.

Baca Juga: Prabowo Selamatkan Rp300 Triliun APBN 2025 dari Potensi Penyalahgunaan, Dialihkan untuk Rakyat

Mu’ti menegaskan, anak-anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya bisa membedakan antara adegan nyata dan rekayasa digital. Lebih dari itu, anak-anak adalah peniru ulung yang mudah mencontoh perilaku dari apa yang mereka lihat.

“Kalau di game itu dibanting, itu kan tidak apa-apa. Tapi kalau dia main dengan temannya kemudian temannya dibanting, kan jadi masalah,” tambahnya.

Pentingnya Literasi Digital dan Peran Orang Tua

Menurut Mu’ti, salah satu cara mencegah dampak negatif game online adalah dengan menanamkan literasi digital sejak dini. Orang tua diminta berperan aktif dalam membimbing anak agar hanya mengakses konten yang bermanfaat.

Halaman:

Tags

Terkini