TITIKTEMU.CO - Pemakaman seorang Paus bukan sekadar acara duka, melainkan sebuah rangkaian prosesi sakral yang kaya simbol dan sarat nilai historis.
Wafatnya Paus Fransiskus tak hanya menyentuh hati umat Katolik di seluruh dunia, tetapi juga menjadi momen penting yang menandai dimulainya masa transisi dalam Gereja Katolik.
Baca Juga: Lowongan Kerja Indocement 2025: Dibuka Kesempatan Bergabung di Pabrik Tarjun, Kalimantan Selatan
Lebih dari Sekadar Pemakaman
Berbeda dengan tokoh publik lainnya, prosesi pemakaman Paus melibatkan tradisi kuno yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Salah satu elemen paling ikonik dalam prosesi ini adalah penggunaan tiga peti mati yang berlapis, yang masing-masing mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan, kematian, dan spiritualitas.
Masa Sede Vacante Dimulai
Setelah seorang Paus wafat, Gereja Katolik memasuki masa yang disebut sede vacante—masa kosongnya Tahta Suci. Dalam periode ini, seluruh aktivitas penting Gereja ditunda hingga Paus pengganti terpilih.
Tugas pertama dalam protokol ini diemban oleh Camerlengo Gereja Roma, Kardinal Kevin Farrell, yang secara resmi mengonfirmasi wafatnya Paus dengan ritual memanggil nama baptis sang Paus sebanyak tiga kali.
Setelah tidak ada respons, ia menyatakan dengan khidmat bahwa Paus telah wafat.
Simbol Kekuasaan yang Dihancurkan
Sebagai penanda berakhirnya masa jabatan, Cincin Nelayan—simbol otoritas Paus—dihancurkan. Tindakan ini bertujuan mencegah penyalahgunaan segel resmi dan menegaskan transisi kekuasaan yang sah.
Baca Juga: Gaji Pegawai Koperasi Desa Merah Putih 2025 Rp8 juta: Fakta atau Hoaks?