Ekspresi mereka yang terkejut kemudian menjadi bahan hiburan yang tersebar luas di berbagai platform.
Meski terlihat sepele, banyak korban mengaku terluka dan malu. Mereka tidak pernah diberi kesempatan menolak direkam, bahkan tidak tahu wajah mereka akan menjadi konsumsi publik.
Baca Juga: Seni Mengatakan 'Tidak': Cara Menjaga Energi Tanpa Merasa Bersalah
Beberapa warganet dan kreator konten pun angkat suara. Tren ini disebut sebagai bentuk perundungan terselubung, di mana humor dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain.
Kreator TikTok @Tinx, misalnya, menyebut tren tersebut sebagai tindakan kejam. Ia menegaskan bahwa mempermalukan orang lain bukanlah bentuk kreativitas.
Bagi sejumlah orang tua dan guru, kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Mereka melihat bagaimana rasa ramah anak-anak atau kepercayaan orang dewasa dimanfaatkan demi konten viral.
Celakanya, pihak yang jadi korban justru mereka yang berusaha bersikap sopan dan membantu.
Baca Juga: Mengapa Kita Sering Merasa Tidak Cukup? Psikologi Self-Worth yang Jarang Diajarkan
Perspektif Psikologi: Dampak Nyata di Balik Lelucon
Psychology Today menjelaskan bahwa tindakan mempermalukan, meski kecil, dapat berpengaruh besar pada kesejahteraan mental seseorang.
Rasa malu, ketidaknyamanan, atau munculnya kecemasan sosial dapat bertahan lama dan memengaruhi interaksi korban di dunia nyata.
Selain itu, media sosial menciptakan ruang di mana tren bisa berlangsung cepat sebelum batas etika sempat dipertimbangkan.
Anak-anak dan remaja, yang masih dalam tahap perkembangan sistem saraf hingga usia 25 tahun, sangat rentan terhadap efek negatif tersebut.
Studi juga menunjukkan derasnya paparan dunia digital mulai menggantikan bentuk permainan fisik dan interaksi langsung yang penting bagi perkembangan moral dan sosial anak.
Aktivitas dunia nyata seperti bermain bersama teman, berdiskusi, atau bekerja sama merupakan fondasi empati dan kemampuan memahami konsekuensi.