TITIKTEMU.CO - Media sosial kerap melahirkan tren-tren viral yang tampak lucu dan sepele. Namun, tidak semua yang mengundang tawa benar-benar tidak berbahaya.
Salah satu tren terbaru yang menuai sorotan adalah Flip the Camera, sebuah tantangan yang sekilas terlihat ringan, tetapi di baliknya tersimpan praktik mempermalukan orang lain tanpa persetujuan.
Fenomena ini memantik diskusi tentang empati, batas etika, dan bagaimana budaya digital bisa mengubah interaksi sederhana menjadi tontonan publik.
Baca Juga: Hidup Berantakan? 10 Kebiasaan Diam-Diam yang Merusak Masa Depan Tanpa Kita Sadari
Tren Viral Mengundang Tawa dn Luka
Dalam tren Flip the Camera, seseorang meminta teman, guru, atau orang asing untuk merekam dirinya sedang menari atau membuat konten.
Saat perekaman berlangsung, dia akan mendekat ke layar dan mengubah setelan kamera sehingga kamera justru menangkap wajah si perekam.
Adegan terjadi dalam hitungan detik, dan yang tertangkap sering kali adalah ekspresi polos, terkejut, atau canggung.
Video itu kemudian diunggah ke media sosial sebagai hiburan. Banyak orang menertawakan, tapi belakangan muncul pertanyaan: apakah pantas mempermalukan orang asing demi sebuah konten lucu?
Menurut Scary Mommy, tren ini kini merambah anak-anak hingga orang dewasa. Mereka mengikuti arus viral tanpa berpikir panjang.
Korbannya pun tidak selalu teman dekat, bisa guru, petugas publik, hingga orang asing yang sekadar ingin membantu.
Baca Juga: Bukan Malas, Kamu Hanya Lelah: Cara Menyembuhkan Mental Exhaustion Secara Perlahan
Ketika Candaan Menjadi Perundungan
Situs Mashable mencatat sasaran tren ini biasanya adalah sosok yang dianggap aman untuk dijadikan bahan lelucon, seperti anak pendiam, introvert, atau seseorang yang sedang berjuang secara emosional.