TITIKTEMU.CO - Di zaman yang katanya serba modern ini, hidup ternyata tidak semudah tutorial di TikTok.
Banyak anak muda usia produktif justru terjebak dalam situasi finansial yang dilematis: harus membiayai diri sendiri sekaligus membantu ekonomi orang tua dan adik-adiknya.
Inilah yang disebut sebagai generasi sandwich—bukan karena doyan roti lapis, tapi karena terjepit di antara dua beban ekonomi sekaligus.
Baca Juga: Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Beban Ganda Anak Muda Indonesia
Generasi sandwich bukan mitos. Ini nyata terjadi di banyak rumah tangga Indonesia. Ketika biaya hidup naik, gaji tidak ikut melompat.
Sementara itu, kewajiban finansial datang bertubi-tubi: bayar kontrakan, cicilan motor, kuota internet, kebutuhan harian, biaya sekolah adik, sampai kiriman rutin ke kampung untuk orang tua.
Akhirnya, hidup terasa seperti lomba lari tanpa garis finish.
Tidak sedikit yang merasa bersalah kalau tidak membantu keluarga.
Tapi, di sisi lain, mereka juga ingin punya masa depan: menikah, punya rumah, dana darurat, dan keuangan yang stabil.
Di titik inilah banyak yang bertanya: lebih baik menabung, investasi, atau menyerah menikmati hidup apa adanya?
Menabung Itu Penting, Tapi Tidak Cukup
Strategi paling klasik adalah menabung.
Namun, jujur saja, menabung di era inflasi hanya bertahan sebagai langkah aman, bukan langkah kaya.