Bagi konsumen yang terbiasa mengganti mobil setiap beberapa tahun, mobil listrik masih memiliki nilai jual kembali yang tidak pasti.
Faktor seperti degradasi baterai dan perkembangan teknologi yang cepat membuat pasar mobil listrik bekas kurang menarik, tidak seperti mobil bensin yang sudah mapan nilai bekasnya.
Baca Juga: Daftar Pilihan Model Mobil Listrik BYD 2025 di Indonesia Tampi Futuristik dengan Harga Terjangkau
4. Biaya Penggantian Baterai yang Sangat Mahal
Meski mobil listrik hemat biaya bahan bakar dan servis, konsumen perlu mempersiapkan biaya jangka panjang untuk penggantian baterai.
Harga baterai bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Setelah masa garansi habis, biaya ini bisa menjadi beban besar yang perlu dipertimbangkan matang.
5. Belum Cocok untuk Semua Gaya Hidup
Terakhir, mobil listrik saat ini belum sesuai dengan semua kebutuhan atau gaya hidup.
Bagi mereka yang sering bepergian jauh atau tinggal di daerah yang minim infrastruktur pengisian, mobil listrik bisa merepotkan.
Chris Delano menegaskan mobil listrik tidak cocok untuk semua orang.
Baca Juga: Diskon Besar-Besaran Mobil Listrik Wuling di Jakarta Fair 2025, Potongan Hingga Rp 70 Juta
Pertimbangkan dengan Bijak Sebelum Membeli
Ulasan Chris Delano menghadirkan sudut pandang pengguna yang kerap luput di tengah promosi masif mobil listrik.
Dengan memahami lima alasan ini, konsumen diharapkan bisa membuat keputusan lebih bijak, tidak hanya tergiur tren tapi juga siap menghadapi tantangan riil penggunaan mobil listrik di Indonesia.***