Baca Juga: Ini Profil Biodata Faizal Hussein 2025: Pemeran Drama Terbaru Bidaah (2025)
Diketahui, koreografer awal di Israel merancang Hora dengan mencampurkan elemen dari tarian Hasid, Balkan, Rusia, Arab, dan Yaman.
Hora kini kerap hadir dalam berbagai acara keagamaan, termasuk pernikahan, di mana pengantin diangkat di atas kursi sambil dikelilingi oleh tamu yang menari.
Kemiripan tarian THR dengan Hora memunculkan kekhawatiran dari sebagian masyarakat. Beberapa kelompok menyerukan agar tarian ini tidak diikuti, terutama oleh umat Islam.
Baca Juga: Rekomendasi Kuliah Negeri dan Swasta Murah di Malang: Pilihan Universitas dengan Biaya Terjangkau
Mereka khawatir tarian tersebut bisa menjadi bentuk asimilasi budaya yang perlahan-lahan memengaruhi akidah.
Pandangan ini didasari pada kekhawatiran akan peniruan terhadap hal yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tercermin dalam hadits: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk lebih berhati-hati dan kritis dalam menyikapi tren viral seperti tarian THR ini.
Walaupun sebagian orang menganggapnya hanya sebagai hiburan, penting untuk tetap mempertimbangkan kesesuaian tren dengan nilai-nilai Islam dan budaya lokal.***