Film Negeri 5 Menara, Kisah Kehidupan Santri Cocok Ditonton Saat Lebaran

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Selasa, 3 Mei 2022 | 01:00 WIB
Film Negeri 5 menara. (IMDb)
Film Negeri 5 menara. (IMDb)

TITIKTEMU.CO- Hari Raya Idul Fitri atau lebaran saatnya berkumpul bersama keluarga.  Bisa dirayakan dengan nonton film keluarga, religi atau film bertema lebaran. Salah satunya adalah Film Negeri 5 Menara.

Film ini dirilis pertama kali tahun  2012. Film religi yang mengisahkan kehidupan para santri ini diangkat dari novel Ahmad Fuadi berjudul sama.

Menceritakan kisah enam santri yang mondok di Pesantren Madani, Ponorogo, Jawa Timur. Fokus cerita pada kehidupan santri Alif yang tinggal di kampung kecil sekitar Danau Maninjau.

Baca Juga: Lewat film Fritzchen Joko Anwar Debut Sutradara Hollywood

Dia tidak pernah pergi dari tanah kelahirannya. Alif bercita-cita ingin melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun, ibunya ingin Alif masuk pesantren agar bisa bermanfaat seperti Bung Hatta dan Buya Hamka. Konflik batin pun menyergap Alif. Dia sempat ngambeg, namun akhirnya menuruti keinginan ibunya.

Di Pondok Pesantren itu kisah Negeri 5 Menara dimulai. Di kelas hari pertamanya, Alif sudah terkesima dengan kalimat Man Jadda Wajadda dari Ustadz Salman.

Baca Juga: Tayang di Bioskop 30 April, Film Kuntilanak 3 Makin Mencekam

“"Ingat, bukanlah yang tajam. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia lah yang berhasil,” katanya.

Alif juga terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas.

Pondok Madani yang terkesan kampungan dengan berbagai peraturan ketat semakin mematahkan semangat Alif. Pemberontakannya pun mempertemukannya dengan teman-teman dari berbagai daerah.

Baca Juga: Lewat Before, Now & Then, Laura Basuki Sabet Penghargaan Berlinale Film Festival

Melalu hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa.

Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka kerap menunggu maghrib sambil menatap langit senja. Awan-awan yang berarak seperti menjelma menjadi negara impian masing-masing.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X