Meski beberapa momen berhasil memancing senyum, harus diakui bahwa tidak semua elemen humor dalam film ini bekerja dengan mulus dan beberapa adegan terasa terlalu berusaha untuk menjadi lucu.
Perpaduan antara komedi dan drama di film ini terasa ragu untuk benar-benar melompat ke salah satu sisi emosi secara penuh.
Rachel Amanda dan Karakter yang Tidak Ideal
Pemilihan Rachel Amanda sebagai Tawa mungkin mengundang tanda tanya di awal, namun seiring berjalannya film, kekuatan emosional yang ia miliki justru menjadi fondasi utama karakter tersebut.
Tawa ditulis sebagai protagonis yang jauh dari sempurna, egois, dan defensif, sehingga film ini tidak meminta penonton menyukainya, melainkan memahami sumber kemarahannya.
Baca Juga: Meikarta Dilirik Lagi: KPK Tegaskan Tak Ada Beban Hukum untuk Rusun Subsidi
Teuku Rifnu Wikana dan Bapak dengan Humor Garing
Sorotan lain layak diberikan pada Teuku Rifnu Wikana yang berhasil keluar dari bayang-bayang peran serius dan tampil sebagai ayah dengan humor garing, usil, dan terasa manusiawi.
Transformasi ini membuat karakter Pak Keset menjadi salah satu elemen paling hidup dalam film.
Tawa yang Tidak Selalu Berarti Bahagia
Pada akhirnya, Suka Duka Tawa tetap berhasil menyampaikan pesan bahwa tawa kerap menjadi topeng untuk menutupi luka yang belum selesai.
Bagi penonton yang memiliki kedekatan personal dengan isu hubungan ayah dan anak, film ini tetap layak ditonton sebagai bahan refleksi, meski dengan ekspektasi yang perlu diturunkan.***