entertainment

Review Film Avatar: Fire and Ash dengan Konflik Moral yang Lebih Kompleks

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:21 WIB
Avatar: Fire and Ash Mengubah Arah Saga dengan Dilema Moral yang Lebih Gelap (Kolase tangkapan layar dari Disney/pa)

TITIKTEMU.CO - Selama lebih dari satu dekade, film-film Avatar karya James Cameron menghadirkan semesta yang terasa hidup, saling terhubung, dan sarat spiritualitas.

Pandora selalu digambarkan sebagai dunia murni yang kontras dengan kerakusan manusia. Namun di Avatar: Fire and Ash, kenyamanan moral itu mulai runtuh.

Film ini tidak lagi sekadar mengajak penonton memihak “yang baik”, melainkan memaksa kita menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit.

Baca Juga: Dari Komedi hingga Horor, Ini 10 Film Korea dengan Penonton Terbanyak 2025

Ketika Alam Tak Lagi Menjawab Doa
Kemunculan klan Mangkwan, suku Na’vi penghuni gunung berapi yang dipimpin Varang, menjadi titik balik penting.

Mereka adalah antitesis dari gambaran Na’vi yang damai dan selaras dengan Eywa.

Mangkwan percaya bahwa Eywa telah meninggalkan mereka. Hubungan spiritual diputus, harmoni dianggap ilusi, dan kekerasan menjadi bahasa sehari-hari.

Alih-alih menyatu dengan alam, klan ini memilih membakar, menjarah, dan membunuh tanpa ragu.

Pandora, untuk pertama kalinya, terasa seperti rumah bagi kemarahan, bukan hanya keindahan.

Baca Juga: Anggaran Tak Terserap, Purbaya Sebut Rp10 Triliun Dana K/L Dikembalikan ke Negara
Jake Sully dan Runtuhnya Kepastian Moral

Jake Sully selama ini menjadi jangkar moral semesta Avatar: manusia yang “sadar”, berpindah sisi, dan membuktikan bahwa kebenaran itu sederhana.

Namun Fire and Ash menguji fondasi itu dengan brutal.

Ketika Jake mempertimbangkan untuk membunuh Spider—bukan karena emosi, melainkan perhitungan dingin—penonton dipaksa menahan napas.

Spider bukan musuh.

Halaman:

Tags

Terkini