TITIKTEMU.CO - Film horor legendaris asal Thailand, Shutter, hadir dalam versi Indonesia. Kali ini diproduksi Falcon Pictures bekerja sama dengan studio film Thailand GDH dengan sutradara Herwin Novianto.
Tak hanya menyajikan kengerian supranatural, film ini juga menggali sisi gelap manusia tentang rasa bersalah, trauma, dan karma. Film ini.tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 30 Oktober 2025.
Versi asli Shutter dirilis tahun 2024 disutradarai Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom. Film ini mencatat sukses besar dan menjadi film horror terlaris pada masanya.
Baca Juga: Abadi Nan Jaya Tayang Mulai Hari Ini di Netflix, Horor Zombie Rasa Indonesia
Falcon Pictures mengeklaim film ini bukan sekadar remake, melainkan reinterpretasi yang lebih relevan dengan isu sosial kekikian.
Produser Frederica menyebut Shutter versi Indonesia menggabungkan teror psikologis, unsur supranatural, serta pesan moral tentang pentingnya menghormati perempuan.
“Kami ingin Shutter punya pesan kuat: pria seharusnya tidak menyakiti perempuan. Film ini juga mendukung kampanye Komnas HAM #SafeSpaceForAll,” ujar Frederica dilansir dari Antara.
Menurut Frederica, film ini memiliki dua lapisan yang bisa dirasakan penonton. Di permukaan menawarkan ketegangan dan misteri khas film horor.
Namun di baliknya, Shutter mengusung refleksi tentang keadilan, empati, dan keberanian untuk menghadapi masa lalu. “Kami ingin penonton bukan hanya takut, tapi juga tersentuh dan berpikir,” katanya.
Baca Juga: No Other Choice Kuasai Nominasi Blue Dragon Film Awards 2025, Saingi The Ugly dan Harbin
Sinospsis Shutter
Film ini mengikuti kisah Darwin (Vino G Bastian), seorang fotografer yang hidupnya berubah setelah kecelakaan mobil misterius bersama kekasihnya, Pia (Anya Geraldine).
Dalam kecelakaan itu, mereka menabrak seorang perempuan di jalan sepi. Keduanya memutuskan untuk tidak melaporkan kejadian itu ke polisi, dan mengabaikan peristiwa itu.
Namun sejak kejadian itu, hal-hal aneh mulai terjadi. Darwin menemukan bayangan samar menyerupai perempuan di setiap foto hasil jepretannya. Sampai akhirnya bayangan itu menjadi teror.