Review Mother Mary: Mungkin Bukan Film untuk Semua Orang

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Rabu, 29 April 2026 | 21:57 WIB
Review Mother Mary:  Mungkin Bukan Film untuk Semua Orang. (IMDb)
Review Mother Mary: Mungkin Bukan Film untuk Semua Orang. (IMDb)

Konflik Lama dan Luka yang Belum Sembuh

Namun, hubungan Mary dan Sam tidak lagi sama. Kesuksesan Mary sebagai “supernova” membuat jarak di antara mereka semakin lebar. Sam hanya bisa menyaksikan dari jauh.

Premis film ini sebenarnya sederhana. Mary datang untuk meminta Sam merancang gaun baru. Namun di balik permintaan itu, tersimpan keinginan yang lebih dalam: rekonsiliasi.

Film ini tidak menjelaskan secara gamblang apa yang menyebabkan perpisahan mereka. Justru di situlah kekuatannya, karena penonton diajak menafsirkan hubungan yang penuh luka, ego, dan penyesalan.

Bukan Film Hantu, Tapi Tentang Penebusan Dosa

Menariknya, Mother Mary membawa tagline “ini bukan cerita hantu”. Pernyataan ini terasa unik, mengingat ada elemen visual berupa sosok misterius seperti hantu dalam film.

Namun, pesan itu menegaskan bahwa inti cerita bukanlah horor, melainkan perjalanan emosional tentang penebusan dosa.

Hubungan antara manusia, baik sebagai sahabat, pasangan, maupun keluarga akan selalu diwarnai konflik yang tidak sederhana.

Mary dan Sam menjadi representasi dua individu yang terluka oleh perubahan. Sam merasa kehilangan sosok Mary yang dulu ia kenal, sementara Mary mulai menyadari bahwa kesuksesan justru membuatnya kehilangan jati diri.

Baca Juga: Suka Project Hail Mary? Ini 5 Film Sci-Fi Luar Angkasa yang Bikin Otak dan Emosi Ikut Terbang

Krisis Identitas dan Kesepian di Balik Popularitas

Beda dengan Sam yang merasakan akibat langsung dari perpisahan, Mary justru baru menyadari hidupnya kosong  belakangan. Dia dikelilingi tim yang selalu setuju dengan setiap keputusannya tanpa kritik dan perdebatan.

Situasi ini membuat Mary merasa hampa. Tidak ada lagi tantangan atau kejujuran yang dulu didapatkan dari Sam. Dia seperti mencoba menghancurkan diri demi menemukan makna yang hilang.

Film ini membuka ruang interpretasi luas bagi penonton. Apakah ini kisah tentang penyesalan seorang sahabat, atau refleksi pribadi sang sutradara tentang konflik antara idealisme dan industri?

Baca Juga: Baru 13 Hari Tayang, Film Ghost in the Cell Tembus 2 Juta Penonton dan Jadi Fenomena Baru di Bioskop Indonesia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X