Film Horor Tak Mati-mati, dari Era Suzzanna hingga KKN di Desa Penari

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Kamis, 11 Desember 2025 | 08:05 WIB
Film Horor Indonesia Tak Mati-mati, dari Era Suzzanna hingga Kini. (Soraya Intercine Films)
Film Horor Indonesia Tak Mati-mati, dari Era Suzzanna hingga Kini. (Soraya Intercine Films)

Baca Juga: 5 Film Paling Dicari di Google Sepanjang 2025, dari Anora hingga Thunderbolts 

Kenapa Horor Jadi Favorit?

Menurut Profesor Haiyang Yang dalam Harvard Business Review, manusia tertarik pada ketakutan karena ingin memahami sisi gelap perilaku manusia, terutama dalam situasi terdesak.

Horor menyediakan ruang aman untuk mempelajari rasa takut tanpa terancam secara fisik. Ada juga faktor fisiologis. Saat nonton horor, tubuh memproduksi adrenalin yang meningkatkan detak jantung.

Faktor-faktor ini menjelaskan mengapa banyak penonton muda menyukai horror. Tidak lain karena sensasi bahaya yang aman terasa menyegarkan.

Budaya Mistis yang Sangat Kuat

Menurut Manoj Punjabi, CEO MD Pictures, orang Indonesia tumbuh dengan cerita hantu sejak kecil. Hantu bukan sekadar karakter fiksi, tetapi bagian dari kosmologi masyarakat.

KKN, pesugihan, sumur tua, rumah kosong, hingga tradisi Jawa sebenarnya adalah lumbung cerita yang tidak pernah kering, yang bisa terus ditimba sepuasnya.

Sebab lain: film horor terbukti menguntungkan. Dengan biaya produksi relatif lebih kecil dibanding film aksi atau drama epik, film horor mampu mengembalikan modal berkali-kali lipat.  

Baca Juga: Lastri: Arwah Kembang Desa, Horor Urban Legend Pati, Film Terakhir Gary Iskak

Teknologi dan Peningkatan Mutu

Salah satu alasan horor modern lebih diterima adalah peningkatan kualitas teknis. Beberapa di antaranya seperti penggunaan kamera yang lebih dinamis, efek suara canggih, tata cahaya detail, serta CGI.

Sineas juga menggabungkan horor klasik dengan sensibilitas modern, di mana unsur hantu tetap ada, tetapi dikemas dengan pacing yang lebih rapi.

Film seperti Siksa Kubur adalah contoh bahwa horor tidak hanya soal jump scare, tapi juga kekuatan tema. Joko Anwar menggabungkan horor dengan pertanyaan filosofis mengenai kematian dan moralitas.

Baca Juga: Agak Laen 2 Jadi Film Ketiga yang Tembus 4 Juta Penonton Tahun Ini, Bakal Menuju Rekor Baru?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X