ekonomi

Bitcoin Ambruk 50 Persen dalam 3 Bulan! Dari Rp2 Miliar ke Rp1 Miliar, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Minggu, 8 Februari 2026 | 18:05 WIB
Bitcoin Ambruk 50 Persen dalam 3 Bulan! Dari Rp2 Miliar ke Rp1 Miliar, Apa yang Sebenarnya Terjadi? (Gemini AI)

Fenomena ini dikenal sebagai fase risk-off, yaitu ketika investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset volatil.

Baca Juga: Deposito Emas Pegadaian, Investasi Dengan Imbal Hasil Emas, Begini Cara dan Keuntungannya 

Kebijakan The Fed dan Politik AS Jadi Pemicu Utama

Salah satu pemicu utama penurunan Bitcoin adalah faktor kebijakan moneter Amerika Serikat. Penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed memicu kekhawatiran pasar.

Investor khawatir bahwa kebijakan moneter ke depan akan lebih ketat, termasuk potensi kenaikan suku bunga atau pengurangan likuiditas.

Aset seperti Bitcoin yang tidak memberikan imbal hasil tetap cenderung kurang menarik ketika suku bunga meningkat. Akibatnya, investor memilih menjual aset kripto dan memindahkan dananya.

Selain itu, ketidakpastian regulasi kripto di Amerika Serikat juga memperburuk sentimen pasar. Investigasi dan perdebatan politik terkait aset digital membuat investor semakin berhati-hati.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp100.000 per Gram! Saatnya Borong atau Tunggu? Cek Daftar Lengkap 6 Februari 2026

Aksi Jual Whale dan Margin Call Perparah Penurunan

Penurunan harga Bitcoin juga dipengaruhi aktivitas investor besar yang dikenal sebagai whale. Beberapa pemegang Bitcoin awal dilaporkan melakukan aksi ambil untung setelah harga mencapai rekor tertinggi.

Selain itu, banyak investor yang menggunakan leverage terpaksa menjual aset mereka karena margin call. Hal ini menciptakan tekanan jual tambahan yang mempercepat penurunan harga.

Fenomena ini umum terjadi dalam siklus pasar kripto, di mana kenaikan tajam biasanya diikuti koreksi signifikan.

ETF dan Paper Bitcoin Tambah Tekanan Pasar

Meningkatnya penggunaan instrumen keuangan seperti ETF Bitcoin dan derivatif juga berperan dalam volatilitas pasar.

Instrumen ini memungkinkan investor mendapatkan eksposur Bitcoin tanpa memiliki koin secara langsung. Akibatnya, volume perdagangan meningkat, sekaligus memperbesar potensi tekanan jual saat sentimen negatif muncul.

Halaman:

Tags

Terkini