TITIKTEMU.CO - Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan drastis hingga sekitar 50 persen hanya dalam tiga bulan terakhir. Dari puncaknya di Oktober 2025 sekitar US$126.000, kini terperosok ke kisaran US$63.000.
Koreksi tajam ini mengejutkan pasar dan memicu kekhawatiran investor global tentang masa depan aset kripto terbesar di dunia tersebut.
Penurunan Bitcoin 2026 ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Banyak investor bertanya-tanya, apakah ini tanda awal krisis kripto atau justru peluang emas untuk membeli di harga diskon?
Baca Juga: 5 Bank Besar Indonesia Terancam! Moody’s Pangkas Outlook Jadi Negatif, Apa Artinya?
Sentuh Level Terendah dalam Setahun
Penurunan harga Bitcoin tidak terjadi secara instan. Sejak awal Januari 2026, pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Tekanan jual meningkat seiring memburuknya sentimen ekonomi global dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko tinggi seperti kripto.
Bitcoin bahkan sempat jatuh di bawah level US$61.000, menjadi posisi terendah sejak sebelum pemilu Amerika Serikat. Saat ini, harga Bitcoin masih di kisaran US$63.000, jauh dari rekor tertinggi sebelumnya.
Penurunan ini menandai fase koreksi terbesar Bitcoin dalam lebih dari satu tahun terakhir, sekaligus menghapus sebagian besar keuntungan spektakuler yang terjadi sepanjang 2025.
Baca Juga: Mengapa Rating Moody’s, Fitch, dan S&P Sangat Penting untuk Indonesia?
Efek Domino: Ethereum dan Pasar Kripto Ikut Terpukul
Koreksi Bitcoin memicu efek domino ke seluruh pasar kripto. Kapitalisasi pasar kripto global dilaporkan menyusut hingga US$2 triliun sejak Oktober 2025.
Ethereum, aset kripto terbesar kedua, mengalami penurunan lebih dari 30% sepanjang tahun berjalan. Banyak altcoin lainnya bahkan mengalami penurunan lebih dalam, memperkuat sentimen negatif di pasar.
Tidak hanya kripto, saham perusahaan dengan eksposur besar terhadap Bitcoin dan blockchain juga tertekan. Investor global cenderung menghindari aset berisiko tinggi dan beralih ke instrumen yang lebih stabil.