Nilai tukar rupiah, misalnya, melemah dan menjadi salah satu mata uang Asia dengan kinerja terburuk sejak awal tahun. Ini terjadi karena investor global mulai mengurangi eksposur mereka di aset Indonesia.
Di pasar saham, tekanan juga terasa. Dana asing tercatat keluar hingga triliunan rupiah. Ketika investor global menarik dana, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ikut tertekan.
Sementara di pasar obligasi, yield atau imbal hasil surat utang negara meningkat. Ini berarti pemerintah harus membayar bunga lebih mahal jika ingin menerbitkan utang baru.
Singkatnya, rating berpengaruh langsung pada:
Nilai tukar rupiah
Biaya utang pemerintah
Arus investasi asing
Stabilitas pasar saham
Belajar dari Krisis 1998
Pentingnya rating Moody’s Indonesia semakin jelas jika melihat sejarah krisis moneter 1997–1998. Saat itu, Indonesia kehilangan status investment grade dan rating anjlok ke level spekulatif.
Dampaknya sangat berat. Investor global kabur, rupiah jatuh, sektor perbankan runtuh, dan ekonomi mengalami kontraksi tajam.
Untuk kembali mendapatkan status investment grade, Indonesia bahkan butuh waktu lebih dari 20 tahun. Pemerintah harus memperbaiki disiplin fiskal, menekan defisit, dan membangun kembali kepercayaan dunia.
Baru pada periode 2011-2018 Indonesia kembali sepenuhnya masuk kategori investment grade dari Moody’s, Fitch, dan S&P. Status ini pun membuka akses Indonesia ke sumber pembiayaan global yang lebih murah dan stabil.
Baca Juga: IHSG Ambruk Lebih dari 2 Persen ke Level 7.935, Investor Dibayangi Sentimen Global dan Moody’s