Kombinasi desain baru, peningkatan kamera, efisiensi chipset, dan ekosistem Apple yang semakin solid diyakini menjadi alasan konsumen kembali agresif.
Baca Juga: Bocoran Terbaru iPhone Fold: Saat Terbentang Hampir Seukuran Tablet, Bukan Sekadar Ponsel Lipat
Apple Masuk Fase Supply Chase Mode
Tingginya permintaan membuat Apple kini berada dalam kondisi yang disebut supply chase mode, di mana perusahaan harus mengejar pasokan komponen dan produksiuntuk memenuhi permintaan.
Lonjakan penjualan iPhone tercatat merata di berbagai wilayah strategis, mulai dari China, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, hingga India.
Bahkan, India mencetak rekor penjualan iPhone kuartalan tertinggi sepanjang sejarah Apple di negara tersebut.
Fenomena ini mempertegas bahwa pasar negara berkembang kini menjadi kontributor penting bagi pertumbuhan iPhone secara global.
iPhone Jadi Penopang Utama Apple
Secara keseluruhan, Apple membukukan pendapatan 143,8 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.412 triliun) pada Q1 FY26, naik 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total ini, iPhone menyumbang lebih dari separuh pendapatan Apple, menegaskan posisinya sebagai produk paling penting perusahaan.
Berikut rincian kontribusi bisnis Apple:
iPhone: 85,2 miliar dolar AS
Services: 30 miliar dolar AS
Wearables, Home & Accessories: 11,5 miliar dolar AS
iPad: 8,6 miliar dolar AS