TITIKTEMU.CO - Tekanan ekonomi bukan sekadar soal angka di rekening. Bagi sebagian orang, urusan uang bisa memicu rasa takut, cemas, tidak percaya diri, hingga panik berlebihan.
Mulai dari menghindari tagihan, takut belanja kebutuhan pokok, hingga sulit tidur karena memikirkan kondisi keuangan. Fenomena ini dikenal sebagai trauma finansial.
Inilah sebuah kondisi psikologis yang kerap luput disadari, namun dampaknya begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah biaya hidup yang terus naik, trauma finansial makin kerap muncul. Hubungan dengan uang tak lagi netral: menyisakan luka, rasa tidak aman, dan memengaruhi cara mengambil keputusan.
Baca Juga: Asuransi Kesehatan Terbaik 2026 untuk Keluarga Muda, Premi Mulai Rp100 Ribuan?
Apa Itu Trauma Finansial?
Menurut Psychology Today, trauma finansial adalah respons emosional, kognitif, dan fisik akibat ancaman nyata maupun yang dirasakan terhadap keamanan keuangan seseorang.
Ancaman ini bisa berupa pengalaman masa lalu seperti kemiskinan, kehilangan pekerjaan, kebangkrutan, hingga tekanan ekonomi berkepanjangan.
Meski bukan diagnosis klinis resmi, trauma finansial memiliki kemiripan dengan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD).
Gejalanya antara lain kewaspadaan berlebihan terhadap uang, kecenderungan menghindari urusan finansial, serta reaksi emosional yang intens saat berhadapan dengan topik keuangan.
Ketika situasi ekonomi kembali tidak stabil, misalnya inflasi tinggi atau isu resesi, luka lama itu bisa aktif kembali, membuat seseorang seolah kembali berada di situasi sulit yang pernah dialami.
Baca Juga: 7 Kesalahan Fatal Saat Beli Asuransi Kesehatan yang Bikin Klaim Ditolak
Trauma Finansial Bukan Sekadar Istilah Populer
Kristen Lee, dosen Northeastern University, menegaskan bahwa tekanan ekonomi dapat menjadi pemicu emosional yang kuat.