ekonomi

Diberdayakan BRI, Pecel Ndoweh Naik Kelas Jadi Kuliner Favorit di Kota Batu

Selasa, 2 September 2025 | 16:50 WIB
Pecel Ndoweh Naik Kelas Jadi Kuliner Favorit di Kota Batu (BRI/TitikTemu)

TITIKTEMU.CO, Malang - Pecel Ndoweh, adalah salah satu kuliner yang menjadi favorit di kota Kota Batu Jawa Timur. 

Jika sedang pelesiran ke Kota Malang, sempatkan untuk menikmatinya di Warung Pecel yang berlokasi di Desa Binangun, Kec. Bumiaji, Kota Batu Malang.

Baca Juga: Benarkah Riza Chalid Terlibat dalam Aksi Kerusuhan? Begini Kata Kapolri dan Presiden

Pecel Ndoweh disajikan berupa nasi pecel dan kelezatan bumbu kacang, pada sebuah piring bambu khusus dilapisi daun pisang. 

Selain itu juga terdapat beraneka hidangan penyerta yang makin memanjakan lidah.

Baca Juga: INNALILLAHI Acil Bimbo Tutup Usia 82 tahun, Perjalanan Hidup Musisi Lagu 'Tuhan' dan 'Sajadah Panjang'

Dwi Rinawati (53), Owner Pecel Ndoweh mengaku mendapatkan pengalaman membuat bumbu pecel dari kakek dan neneknya yang juga seorang pemilik warung di kampung halamannya di Madiun. 

Pengalaman itu pun kemudian sengaja dibawa ke Kota Batu dengan mendirikan warung pecel rumahan yang awalnya ala kadarnya.

"Awalnya ya di depan sini pakai meja, sama juga jualan untuk latihan sepak bola di lapangan. Kan anak saya itu melatih, sekalian kita bawa jualan di mobil," ungkap Dwi Rinawati di warungnya.

Paket sajian seharga Rp8 Ribu dilengkapi toping peyek, acar, mendoan, orek tempe dan srundeng. Namun pengunjung bisa minta tambahan lauk seperti telor dadar, ayam dan sarang tawon dengan tambah harga. 

"Banyak orang yang suka dan diterima masyarakat sini," tegasnya.

Usaha warung nasi pecel itu dirintis Dwi Rinawati dan keluarga pada awal 2021, saat Pandemi Covid-19. Kala itu, anak dan menantunya yang bergantung pada bisnis pariwisata dirumahkan dan harus mencari alternatif jalan usaha lain. Dunia pariwisata sepi dan tidak dapat diharapkan sebagai sumber penghidupan bagi keluarga lagi. Sementara usaha terus berjalan, apalagi Ia hidup bersama dua orang anak dan dua cucu.

Keadaan itu yang membuat Rinawati dan keluarga menemukan ide untuk membuat warung pecel di meja depan rumah dengan modal yang tidak banyak. Warung yang tanpa papan nama itu memanfaatkan emperan rumah yang ditata dengan apik.

Seiring waktu pesanan terus berdatangan, sebungkus dua bungkus diantar ke rumah-rumah pemesan, termasuk melayani masyarakat yang menjalani karantina. Bersamaan juga membuat sambel pecel yang dijual secara terpisah dan dititipkan ke beberapa warung di sekitar.

Halaman:

Terkini