ekonomi

UMKM Binaan BRI Unjuk Gigi di Singapura, Produk Lokal Tembus Pasar Internasional

Senin, 28 Juli 2025 | 20:31 WIB
Ikuti Pameran Internasional di Singapura, UMKM Binaan BRI Ini Buktikan Kekuatan Produk Lokal di Kancah Global (Dok. BRI)

TITIKTEMU.CO - UMKM Indonesia semakin membuktikan daya saingnya di panggung internasional. Kualitas produk yang terus berkembang serta semangat inovasi yang tinggi menjadi kunci keberhasilan para pelaku usaha kecil dan menengah dalam menarik perhatian pasar global. Hal ini salah satunya ditunjukkan dalam ajang FHA Food & Beverage 2025 yang berlangsung di Singapura pada 8–11 April 2025 lalu, di mana UMKM lokal hadir untuk memperkenalkan produk unggulannya ke mancanegara.

Dari sekian banyak peserta, sorotan tertuju pada UMKM binaan BRI asal Padang, Sumatera Barat, yakni L`île Chocolate. Brand cokelat lokal ini sukses mencuri perhatian sejumlah klien internasional, menjadi bukti nyata bahwa produk dalam negeri memiliki kualitas dan daya saing yang mumpuni untuk merambah pasar ekspor.

Baca Juga: Lowongan Kerja Staf Administrasi di RSI Tunas Harapan Salatiga, Simak Syarat dan Cara Daftarnya!

Priscilla Raisa Partana, pendiri sekaligus pemilik L`île Chocolate, menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam pameran tersebut membuka jalan besar bagi bisnisnya. Ia menyebut ajang internasional seperti ini sangat membantu pelaku usaha untuk menembus pasar baru dan memperluas jaringan distribusi secara global.

L`île Chocolate merupakan bagian dari PT. Sumatra Coklat, usaha berbasis di Padang yang mengusung konsep tree-to-bar. Semua tahapan produksi—dari pemilihan biji kakao, pengolahan, hingga pengemasan akhir—dikerjakan di Sumatera Barat. Usaha ini juga melibatkan para petani kakao lokal sebagai mitra dalam rantai produksinya.

Priscilla menambahkan bahwa tren cokelat kerajinan (craft chocolate) di Indonesia tengah berkembang pesat. Ia dan tim memanfaatkan peluang ini dengan mulai mengolah kakao varietas lokal BL50, yang ditemukan oleh petani setempat secara tidak sengaja. Varietas ini memiliki keunggulan produksi yang tinggi, mencapai 2–3 ton per pohon, jauh melampaui varietas lain yang rata-rata hanya 500 kg per pohon.

Baca Juga: LOWONGAN KERJA 2025 Terbaru SPA Therapist di Jember, Gaji + Bonus + Mess! Ini Syaratnya

Namun perjalanan L`île Chocolate tidak selalu mulus. Pandemi COVID-19 sempat melumpuhkan operasional bisnis mereka. Sebelumnya, produk mereka sudah menjangkau pasar internasional seperti Inggris dan kota-kota di UK. Sayangnya, saat pandemi melanda, seluruh buyer asing membatalkan pesanan dan ekspor pun terhenti total.

Situasi ini sempat membuat usaha L`île Chocolate nyaris berhenti. Tapi Priscilla tidak tinggal diam. Ia memilih bangkit dan menyusun ulang strategi bisnisnya. Langkah pertama yang ia ambil adalah memperkuat pasar domestik sebagai pijakan untuk pemulihan.

Langkah pemulihan dilakukan secara bertahap. Salah satunya dengan menghadirkan produk cokelat dalam bentuk minuman, kue, dan kudapan di kafe lokal di Padang. Ini terbukti efektif dalam membangun kembali kesadaran merek dan mendekatkan produk kepada konsumen lokal.

Baca Juga: Jokowi Singgung Polemik Ijazah Saat Reuni UGM: Kalau Saya Palsu, 88 Orang Juga Palsu

Permintaan internasional pun mulai tumbuh kembali, terutama untuk produk inovatif mereka seperti chili chocolate cassava rocher. Produk ini memadukan cokelat dengan singkong balado, yang dijadikan alternatif unik pengganti kacang hazelnut ala Ferrero Rocher. Produk tersebut juga kini sudah merambah ke segmen Horeka, termasuk resort-resort di wilayah Mentawai dan Bali.

Menariknya, pandemi juga membuka peluang baru. Ketika salah satu pembeli dari London membatalkan pesanan, Priscilla melihat kesempatan untuk merambah pasar ritel di Jakarta. Inovasi dan adaptasi menjadi kunci keberhasilan dalam melewati masa sulit tersebut.

Pameran di Singapura tahun ini menjadi momentum penting. Produk yang dibawa ke FHA Food & Beverage 2025 telah melalui kurasi ketat oleh BRI dan Atase Perdagangan Singapura, sehingga hanya produk-produk dengan kualitas tinggi yang ditampilkan. Hal ini berdampak positif karena buyer yang datang lebih selektif, serius, dan memahami nilai produk yang ditawarkan.

Halaman:

Tags

Terkini