TITIKTEMU.CO - Solana, salah satu aset crypto yang terus menarik perhatian investor, menunjukkan performa yang cukup stabil meski sempat mengalami penurunan harga.
Saat ini, harga Solana bertahan di atas zona support penting di $158, memberikan harapan bagi para trader bahwa struktur bullish masih dapat dipertahankan.
Namun, di tengah optimisme tersebut, muncul tanda-tanda pelemahan momentum yang harus diwaspadai.
Divergensi bearish pada indikator RSI menjadi sinyal bahwa harga Solana mungkin akan mengalami koreksi jangka pendek.
Bagaimana potensi pergerakan harga Solana ke depan? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
Baca Juga: Mengapa Harga Bitcoin (BTC) Turun Tanggal 16 Juli 2025? Ini Faktor Utamanya
Analisis Support dan Resistensi Solana
Zona support $158 menjadi level kunci yang menjaga struktur bullish Solana tetap utuh.
Level ini dipetakan menggunakan indikator Fibonacci retracement, alat yang sering digunakan trader untuk mengidentifikasi area potensial pembalikan harga selama tren naik.
Jika Solana berhasil menembus resistensi di $168 (sekitar Rp2,7 juta), potensi kenaikan menuju level $179 (Rp2,91 juta) hingga $184 (Rp2,99 juta) terbuka lebar.
Namun, keberhasilan ini sangat bergantung pada sentimen pasar secara keseluruhan yang harus tetap positif.
Baca Juga: Prediksi Cryptocurrency Naik Hari Ini 16 Juli 2025: Hedera (HBAR) Vs Aptos (APT)
Divergensi Bearish RSI: Sinyal Koreksi Jangka Pendek
Meskipun harga Solana terus mencetak puncak yang lebih tinggi antara 10 Juli hingga 14 Juli, indikator RSI menunjukkan pola divergensi bearish.
RSI mencetak puncak yang lebih rendah, mengindikasikan bahwa momentum beli mulai melemah.
Divergensi seperti ini sering kali diikuti oleh koreksi harga jangka pendek. Bahkan saat ini, RSI mulai melengkung turun mendekati garis sinyalnya, memperkuat kemungkinan pendinginan sementara sebelum harga melanjutkan kenaikan.