3. Libatkan Tim Ahli
Konsultasikan penetapan batas kritis dengan tim ahli seperti teknolog pangan, mikrobiolog, atau konsultan HACCP untuk memastikan akurasi dan relevansi parameter yang dipilih.
4. Uji Validasi
Lakukan uji coba atau validasi terhadap batas kritis yang telah ditetapkan untuk memastikan efektivitasnya dalam mengendalikan bahaya. Contohnya, pengujian suhu pasteurisasi pada berbagai batch produk susu untuk memverifikasi hasilnya konsisten.
5. Dokumentasikan Proses Penetapan
Catat seluruh proses penetapan batas kritis beserta alasan ilmiah di baliknya agar dapat ditelusuri saat audit atau inspeksi regulator berlangsung.
Contoh Kasus Penetapan Batas Kritis
Produk Susu Pasteurisasi
CCP: Suhu pasteurisasi susu harus mencapai minimal 72°C selama 15 detik.
Batas Kritis: Suhu <72°C atau waktu <15 detik akan memicu tindakan korektif karena berisiko tidak membunuh bakteri patogen seperti Salmonella atau E.coli.
Produk Daging Olahan
CCP: Lama pemasakan daging minimal 30 menit pada suhu 75°C.
Batas Kritis: Waktu pemasakan kurang dari 30 menit atau suhu di bawah 75°C dianggap tidak aman karena bakteri seperti Clostridium perfringens masih bisa bertahan.
Keuntungan Menerapkan HACCP di Yogyakarta
Sebagai salah satu daerah dengan perkembangan industri kuliner pesat, pelaku usaha di Yogyakarta memiliki peluang besar untuk meningkatkan daya saing melalui penerapan HACCP. Keuntungan yang bisa diperoleh antara lain:
- Produk lebih dipercaya oleh konsumen lokal maupun internasional.
- Memenuhi persyaratan ekspor ke pasar global.
- Mengurangi risiko kerugian akibat produk cacat atau recall.
Apakah Anda sudah siap menerapkan HACCP di bisnis Anda? Mulailah dari penetapan batas kritis yang tepat agar produk Anda aman dan berkualitas tinggi!***