ekonomi

Petani Ini Berhasil Kembangkan Budidaya Alpukat Lewat BRI Klasterku Hidupku

Kamis, 21 November 2024 | 11:31 WIB
Klaster Pusbikat (Pusat Pemasaran dan Edukasi Budidaya Alpukat) Desa Baran Gembongan, Semarang. (dok. BRI)

TITIKTEMU.CO, Jakarta – BRI berkomitmen untuk terus memberdayakan pelaku Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) di sektor pertanian melalui Program Klasterku Hidupku. 

Salah satu Klaster Usaha binaan BRI di desa Baran Gembongan, Kelurahan Baran, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang yang merupakan klaster budidaya buah alpukat menceritakan keberhasilannya. 

Baca Juga: Timnas Indonesia Mendunia! Intip Sorotan 3 Media Asing yang Kagumi Aksi Brilian Maselino di Laga Kontra Arab Saudi

Ketua Klaster Pusbikat Agus Riyadi mengungkapkan bahwa nama Pusbikat merupakan singkatan dari Pusat Pemasaran dan Edukasi Budidaya Alpukat (Pusbikat) di Desa Baran Gembongan, Semarang.

”Pusbikat ini awalnya hanya mencakup satu wilayah, satu RT di satu lingkungan. Tapi kemudian berkembang menjadi satu kampung,” ujarnya saat mengikuti Bazaar Klasterku Hidupku di Taman BRI pada 15 November 2024 lalu.

Baca Juga: Lowongan Kerja Magang KemenSetneg ada Puluhan Posisi untuk Siswa SMK dan Mahasiswa D3-S1

Di wilayahnya sendiri, Desa Baran Gembongan, Kelurahan Baran, Kecamatan Ambarawa terdapat 20 petani alpukat. Para petani tersebut terkenal mampu menghasilkan alpukat unggulan lokal yang dikenal dengan kualitasnya yang tinggi. Buah alpukat dari daerah ini memiliki tekstur daging yang lembut, rasa yang gurih, dan kandungan gizi yang tinggi. 

Agus bercerita, pada mulanya pada 2011 Agus hanya menanam 2 pohon alpukat yang digarap dan diberdayakan sendiri. Ketika pada akhirnya berhasil panen, orang-orang di sekitarnya tertarik untuk menjadi petani alpukat pula.

Baca Juga: Erick Thohir Ingin Futsal dan Sepak Bola Pantai Konsolidasi Total Menuju Garuda Mendunia

Peran Agus adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat alpukat, serta menyediakan informasi seputar budidaya dan perawatan tanaman.

Dengan keberadaan Pusbikat, Desa Baran Gembongan diharapkan bisa menjadikan alpukat sebagai ikon desa yang berdaya saing tinggi dan diminati masyarakat luas.

Kisahnya dengan BRI sendiri dimulai pada 2020 saat ia mengakses permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Modal tersebut ia gunakan untuk memperluas usaha dan mengembangkan penanaman alpukatnya. Agus pun belajar dari nol, mulai menyiapkan biji, bibit, penanaman, perawatan, hingga pemasaran. 

Baca Juga: Berapa UMP/UMK Cilacap, Banyumas, Kebumen, Kota Semarang Jawa Tengah 2025? Cek Simulasi Kenaikannya DISINI

Hasilnya, budidaya pohon alpukatnya bisa menghasilkan produk panen berlimpah, meskipun hasil panen tidak selalu dapat diprediksi. Dengan harga jual rata-rata Rp30 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram, apabila sedang bagus hasil panen bisa berlimpah mencapai 1-2 ton per hari. Panen buah alpukat sendiri biasanya terjadi 3 kali dalam setahun.

Halaman:

Tags

Terkini