TITIKTEMU.CO, Kasus bunuh diri yang dilakukan remaja beberapa waktu terakhir ini, mengundang keprihatinan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jawa Tengah. Untuk menghindari hal tersebut, mereka menggelar kegiatan Pendampingan dan Deteksi Dini Permasalahan Psikologi Remaja, di aula Gedung DWP Jateng, Selasa (14/11).
“Karena banyaknya kasus yang marak bunuh diri dengan remaja, sehingga kami tergerak untuk mengadakan edukasi permasalah psikologi remaja ini, karena ilmu yang kita dapatkan bisa bermanfaat untuk mengatasi masalah yang timbul akhir-akhir ini,” kata Wakil Ketua III DWP Jateng Hesti Harso Susilo
Hesti berharap, melalui kegiatan itu, lingkungan DWP bisa lebih peduli dengan persoalan psikologis remaja, sehingga muaranya, bisa melakukan pencegahan apabila mendeteksi adanya gangguan psikologis.
“Jadi mereka perlu pendekatan dari orang tua, ayah, ibu. Mereka perlu komunikasi yang baik. Sehingga anak-anak bisa melakukan kegiatan poisitif, untuk mengindari hal tersebut,” ujarnya.
Baca Juga: 5 Tips Mendidik Anak Remaja Yang Beranjak Dewasa, Salah Satunya Jadikan Diri Anda Sebagai Temannya
Sosok ibu, imbuhnya, menjadi seseorang yang tangguh, dan merupakan role model, serta cerminan perilaku bagi anak-anaknya. Sebagai role model, ibu menjadi figur yang mengayomi, menjadi tempat berlindung, tempat berbagi, serta tempat berkeluh kesah. Di sisi lain perkembangan zaman semakin lama semakin maju, dan tantangannya pun semakin berat.
“Tentunya ini berkaitan dengan pola asuh orang tua dan keluarga serta lingkungan, sebagai tempat tumbuh kembang psikologis remaja,” ujarnya.
Sementara psikolog dari Universitas Diponegoro Semarang Novi Qonitatin, menuturkan, mengingat maraknya kasus bunuh diri pada remaja saat ini permasalahan remaja perlu segera ditangani. Kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting, karena efeknya bisa sampai mengakhiri nyawa, dan sebagainya.
“Sebetulnya banyak faktor yang melatarbelakangi. Remaja ini dalam masa perubahan seperti pubertas, perubahan secara fisik, biologis, perubahan sosial,” kata Novi.
Belum lagi masalah akademik, persaingan prestasi, hal lain seperti tekanan lingkungan, persoalan di dalam keluarga, masalah ekonomi dan lainnya. Menurutnya, masalah itu bisa menjadi pemicu gangguan psikologis.
Novi berharap orang tua bisa mendeteksi kondisi tersebut secara dini. Diawali dengan mendeteksi atau memerhatikan perubahan yang terjadi, misalnya semula rajin sekolah, kemudian jadi malas, atau hal lainnya. Jika deteksi telah ditemukan, maka anak bisa terbuka ke orang tua. Komunikasi dengan keterbukaan tersebut menjadi penting.
Baca Juga: Citayam Fashion Week, Medium Ekspresi Remaja Citayam, Bojong Gede dan Depok
“Salah satu tantangan remaja, mereka terbuka dengan temannya. Saya enggak mau cerita ke orang tua. Boleh dong punya rahasia, itu biasa terjadi. Kalau orang tua sudah menjadi teman yang hangat bagi remajanya, bisa saling terbuka, tidak hanya komunikasi saat ada masalah. Artinya, sehari-hari diajak berbicara. Saya pikir itu menjadi model,” bebernya.
Sehingga, imbuh Novi, bila nanti si anak remaja memiliki masalah, mereka akan bisa menceritakan. Karenanya, komunikatif antara orang tua dan anak remajanya harus dilakukan.