cerkakbung

Seorang Perempuan Amerika Di Baghdad

Erwin Saputra
Senin, 16 Agustus 2021 | 21:17 WIB
Pixabay/Grace Dickason

Ada sederetan mobil sedan dan van yang sudah menunggu kami. Aku, Nancy, dan Saeed kebetulan mendapat mobil yang sama. Nancy dan Saeed duduk di kursi depan, aku di belakang. Bersamaku di kursi belakang, aktivis perdamaian asal Jepang, Miyuki Nakajima, dan aktivis asal India, Prabha Jagannatan.

Mobil kami meluncur memasuki kota Baghdad, menyusuri pinggiran Sungai Tigris yang lebar dan indah itu. Jalan yang kami lalui lebar dan mulus. Benar-benar infrastruktur perkotaan yang bagus, yang dibangun dengan uang minyak. Baghdad adalah kota tua. Di masa kejayaannya, ketika Paris dan London masih desa kecil yang tak dikenal, dan Christopher Columbus belum menginjakkan kakinya di benua liar yang sekarang bernama Amerika, Baghdad sudah menjadi kota metropolitan yang makmur.

Kami menuju ke tempat penginapan sementara di Baghdad, sebelum berangkat ke perbatasan Irak–Arab Saudi. Orang terlihat di jalan-jalan. Denyut kehidupan di kota seribu satu malam ini seolah berjalan normal. Namun ketidaknormalan akan terasa, jika kita melihat ke atas. Di beberapa atap gedung kulihat moncong-moncong ZSU-23, senjata anti-serangan udara buatan Rusia, kaliber 23 mm. Senjata-senjata ini menengadah ke langit, seolah-olah tak sabar menyongsong datangnya pesawat-pesawat musuh.

Saeed termasuk pria menyenangkan. Sepanjang perjalanan, ia cepat akrab dengan para tamunya, terutama dengan Nancy. Saeed bercerita tentang macam-macam hal, mulai dari desa asalnya, kuliahnya, karirnya, dan keterlibatannya di tugas ini. Salah satu hal yang ikut mendorong karirnya di Departemen Luar Negeri adalah asal kelahirannya di Desa Tikrit, yang juga tempat kelahiran Presiden Irak Saddam Hussein. Sejauh informasi yang kudengar, Saddam memang menjadikan orang-orang dari kampung halamannya sebagai basis pendukung yang setia.

Sebagaimana layaknya pemuda Irak lain, yang berdedikasi pada karir, Saeed juga jadi anggota Partai Ba'ath. Partai berideologi campuran sosialisme dan nasionalisme Arab ini adalah partai yang berkuasa di Irak. Jadi, Saeed memang di jalur karir yang tepat. Sayangnya, lulusan jurusan sosiologi Universitas Baghdad ini belum menikah, meski umurnya kuduga sudah 35 tahun. Katanya sambil tertawa, "Belum menemukan calon pendamping yang cocok."

"Apakah calon pendamping Anda harus orang Irak? Atau orang Arab?" cetus Nancy.

"Oh, tidak. Saya bilang, pendamping yang cocok. Artinya, bisa orang dari mana saja," sahut Saeed. Lalu ia melanjutkan, setengah menggoda, "Mengapa Anda bertanya begitu? Apakah Anda punya calon untuk saya?"

Nancy tersenyum. "Pertanyaan itu belum bisa saya jawab sekarang."

Begitulah, sejak awal perkenalan Nancy dan Saeed, aku sudah melihat tanda-tanda ke arahnya mendekatnya hubungan antara mereka. Proses ini pun berlanjut. Sore itu, ketika kami sudah tiba di penginapan dan bersiap untuk perjalanan ke perbatasan besoknya, aku beberapa kali memergoki Nancy dan Saeed sedang mengobrol berdua.

Pada malam harinya, aku, Miyuki dan Prabha mengisi waktu dengan berjalan-jalan di pinggiran Sungai Tigris. Di sebuah restoran ikan bakar di pinggir sungai, kami sekali lagi bertemu Saeed dan Nancy. Keduanya menyapa kami dengan ramah, dan mengajak kami bergabung. Kami pun bergabung, dan jadilah malam itu malam yang akrab untuk kami semua. Sambil menyantap ikan bakar, di bawah kerlap-kerlip bintang di langit kota Baghdad, untuk sesaat kami lupa bahwa perang siap pecah kapan saja.

*

Saeed dan Nancy berasal dari dua negara yang sedang berperang. Tetapi hubungan antara mereka adalah sesuatu yang kupikir lebih mendasar, hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ini soal perasaan, soal kebutuhan manusia. Tidak ada hubungannya dengan politik antarnegara. Setidaknya itulah yang kulihat waktu itu. Aura Baghdad, kota kuno yang pernah menjadi pusat kekhalifahan dinasti Abbasiyah ini, tampaknya memberi romantisme tersendiri.

Hari berikutnya, karena kebersamaan dalam kegiatan kelompok perdamaian, aku makin akrab dengan rekan-rekan lain di kelompok ini, termasuk tentunya dengan Nancy dan Saeed, yang sebetulnya bukan anggota tim perdamaian. Kami melakukan aksi unjuk rasa anti-perang di Baghdad, bersama kelompok pelajar sekolah menengah Irak. Lalu malam harinya, ada acara meditasi bersama untuk perdamaian, yang dipimpin Yunichiro Miyazawa, seorang pendeta Syinto dari Jepang.

Esok paginya, kami berangkat ke perbatasan Irak-Arab Saudi, untuk mendirikan kemah perdamaian. Namun, kami hanya sempat seminggu tinggal di situ, karena pemerintah Irak lalu memulangkan kami semua ke Baghdad. Alasannya, perang tampaknya akan segera pecah. Pemerintah Irak khawatir, kami akan menjadi korban, dan pemerintah di Baghdad tak ingin disalahkan karena hal-hal tersebut.

Tiga hari kemudian, perang memang betul-betul pecah. Malam itu langit kota Baghdad memerah. Sejumlah gedung pemerintahan meledak dan terbakar, ketika bom-bom dari pesawat koalisi pimpinan Amerika mulai berjatuhan. Suara sirene tanda bahaya meraung-raung, diselingi rentetan tembakan dari artileri dan senjata anti-serangan udara Irak.

Halaman:

Tags

Terkini

PART 34 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Minggu, 6 Agustus 2023 | 08:10 WIB

PART 33 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Minggu, 6 Agustus 2023 | 06:29 WIB

PART 32 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Sabtu, 5 Agustus 2023 | 08:00 WIB

PART 31 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Sabtu, 5 Agustus 2023 | 06:30 WIB

PART 30 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 20:05 WIB

PART 29 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 17:26 WIB

PART 28 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 08:00 WIB

PART 27 MY COLD BAD BOY - MCBB by: RANNISKII

Jumat, 4 Agustus 2023 | 06:00 WIB