pariwisata

Tari Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral Keraton Surakarta

Rabu, 18 Agustus 2021 | 16:47 WIB
Tari Bedhaya Ketawang (Ganug Nugroho Adi)

TITIKTEMU

Tari Bedaya Ketawang tidak bisa diyampilkan setiap saat. Tari sakral Keraton Surakarta ini ditampilkan setahun sekali, saat peringatan raja naik tahta.

Inilah tarian peninggalan dinasti Kerajaan Mataram. Tari Bedhaya Ketawang diciptakan masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (1623-1645).

Saat bertapa, sang raja mendengar alunan gending dari langit. Dari gending itulah Sultan Agung menciptakan Bedhaya Ketawang yang kurang lebih artinya tarian dari langit.

Versi kedua, Bedhaya Ketawang ada sejak masa Panembahan Senapati, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Mataram. Terinspirasi kisah Sang Raja yang memadu kasih dengan Ratu Kencanasari atau Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Pantai Selatan).

Syair-syair tembang yang mengiringi Tari Bedhaya Ketawang sendiri berisi curahan hati Kangjeng Ratu Kidul kepada sang raja.

Kitab Wedhapradagna menulis Bedhaya Ketawang diciptakan oleh Sultan Agung. Sang Raja meminta bantuan Kanjeng Ratu Kidul untuk mengajarkan gerakan tarian kepada para penari kerajaan.

Setiap malam Anggoro Kasih (Selasa Kliwon), sebanyak 9 penari berlatih tarian dari langit itu. Nah, salah satu dari sembilan penari itu konon Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Rara Kidul.

Tarian ini secara turun-temurun dibawakan setiap acara Tingalan Jemenengan atau peringatan naik tahta Raja Keraton Mataram. Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755, Kerajaan Mataram terbagi dua: Kasunanan Suarakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Perjanjian itu juga membagi harta benda dan warisan budaya. Tari Bedhaya Ketawang jatuh ke Keraton Kasunanan Surakarta.

Raja Surakarta Paku Buwono XIII menyaksikan Tari Bedaya Ketawang. (Ganug Nugroho Adi)

Legitimasi Raja

Tarian ini memang berbeda dengan tari tradisional Jawa lain. Alur gerakan terasa lambat, irama gamelan terdengar luruh (halus). Musik pengiringnya adalah Gending Ketawang Ageng.

Babak-babak awal tarian berisi gending, dan tembang Durma (satu dari 11 Tembang Macapat), dilanjutkan tembang Ratnamulya. Babak kedua berkisah tentang pernikahan raja dan Kanjeng Ratu Kidul.

Halaman:

Tags

Terkini