Rumah-rumah kuno dihidupkan lagi bukan hanya sebagai tempat tinggal, tapi juga rumah produksi dan galeri batik.
Baca Juga: Eksotisme Batik Tua di Dalem Wuryaningratan, Solo
“Pengunjung bisa wisata belanja sambil menikmati wisata heritage,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Solo, Aryo Widyandoko, Selasa (28/9).
Melalui paket wisata, wisatawan diajak menelusuri jejak sejarah Laweyan pada masa keemasan industri batik pada awal tahun 1900-an.
Paket wisata antara lain terdiri dari home stay, di mana mereka tinggal sekaligus belajar membuat batik tulis dan batik cap.
Baca Juga: Menikmati Senja di Ujung Senja
Selain itu, Kampung Laweyan juga menawarkan situs sejarah, seperti makam Kyai Ageng Henis, tokok yang menurunkan raja-raja Mataram.
Ada juga bekas rumah Kyai Ageng Henis dan Sutowijoyo (Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataran), rumah dan museum H Samanhudi, pendiri Serikat Dagang Islam (SDI).
Pemerintah Kota Solo tak main-main. Jokowi menngerjakan konservasi 30 rumah cagar budaya untuk wisata heritage dengan anggaran tidak kurang dari Rp 200 miliar.
Tak hanya Laweyan, Kampung Kauman juga dibenahi. Tradisi membatik di kampung ini berasal dari keraton melalui abdi dalem.
Baca Juga: Berburu Barang Antik di Pasar Triwindu Solo, dari Seterika Arang hingga Kaset Pita
Jika Kampung Laweyan lebih banyak memproduksi batik modern, maka Kampung Kauman merupakan sentra batik lawasan, seperti Sidomukti, Sidoluhur, Parang, Truntum.
Situs-situs bersejaah juga terebar di kampung ini, seperti rumah joglo, limasan, kolonial, serta rumah-rumah dengan arsitektur Jawa dan Belanda.
“Penataan wisata di Kauman ini satu paket dengan Laweyan karena keduanya memiliki kekhasan heritage dan batik,” jelas Aryo.
Baca Juga: Rumah Atsiri, Belajar Meracik Minyak Aeroterapi di Tawangmangu