pariwisata

Melihat Keistimewaan Yogyakarta Lewat Pameran Seni Rupa

Jumat, 23 Agustus 2024 | 17:00 WIB
Pameran Seni Rupa bertajuk ‘Marwah Keistimewaan Untuk Nusantara’. (Pemprov Yogya)

TITIKTEMU.CO, Memperingati 12 tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY, ratusan seniman mempersembahkan karyanya dalam gelaran Pameran Seni Rupa bertajuk ‘Marwah Keistimewaan Untuk Nusantara’.

Menampilkan lebih dari 100 karya, pameran inisiasi para seniman ini dapat dikunjungi masyarakat secara gratis, mulai 12-30 Agustus 2024 di Gedung Saraswati, Museum Sonobudoyo Yogyakarta, pada pukul 10.00 – 21.00 WIB.

Sekretaris Daerah DIY Beny Suharsono menuturkan, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang, besar harapan, kehidupan berkesenian dan karya seni di DIY dapat senantiasa “merawat” dan “membesarkan” ruh atau esensi Keistimewaan DIY, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu.

Baca Juga: Ratusan Seniman Suarakan Keistimewaan DIY Lewat Pameran Seni Rupa

Dikatakan Beny, Seni, seni sudah setua eksistensi manusia, dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Seni sejatinya bahkan merupakan identitas (a form of identity), baik identitas pribadi, identitas budaya, maupun identitas sosial.

Sebagai identitas pribadi, seni adalah cerminan perasaan, pemikiran, dan pengalaman pribadi seorang individu. Dengan mengapresiasi sebuah karya, berarti individu sedang berkenalan dengan sang seniman itu sendiri, tentang siapakah dia, apa nilai-nilai yang dipegangnya, dan bagaimana ia melihat dunia.

Sementara, sebagai identitas budaya, seni menyajikan catatan sejarah lengkap, tentang bagaimana dan ke arah mana sebuah kebudayaan bergerak, dalam kaitannya dengan waktu. Adapun sebagai identitas sosial, seni dapat berperan sebagai sang pembawa pesan tentang kondisi dan isu-isu sosial terkini.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Museum Sonobudoyo Ery Sustiyadi menyampaikan bahwa pihaknya sangat mendukung penuh gelaran pameran tersebut. “Mudah-mudahan ini menjadi bagian dari apresiasi masyarakat termasuk secara tidak langsung baik terhadap karya-karya seni yang dipamerkan maupun terhadap Museum Sonobudoyo. Harapan kami ke depan kerja sama ini tetap terjalin dengan baik, sehingga potensi-potensi yang ada di masyarakat tetap bisa tergali dan bisa dioptimalkan,” ucap Ery.

Baca Juga: Keren, ISI Yogyakarta Akan Gelar Pameran Fotografi Internasional, 33 Negara Berpartipasi

Sementara itu, Kurator Pameran Seni Rupa 2024 Peringatan UUK DIY Hajar Pamadhi, menyebutkan, tajuk ‘Marwah Keistimewaan Untuk Nusantara’ terinspirasi dari sejarah perjuangan Yogyakarta. Tema tersebut didasari eksistensi UUK untuk mengangkat dan mengembangkan Yogyakarta sebagai Kota Perjuangan. Seperti yang dikatakan George Bridgman bahwa ‘In drawing, one must look for or suspect that there is more than is casually seen’.

“Maka, dengan mempresentasikan makna keistimewaan yang menjadi sebuah perjuangan, kami menghimpun dan mengajak para seniman menelusuri jejak perjuangan Yogyakarta. Pameran peringatan UUK ini mengambil makna marwah perjuangan, diartikan para peserta pameran diajak bersama dan membersamai memajukan prinsip keistimewaan dalam karya karya seninya,” ungkap Hajar.

Hajar mengutarakan, pameran seni rupa mengenang perjuangan UUK ini pun mengundang para perupa yang berdomisili di luar Yogyakarta untuk menggaungkan Marwah Keistimewaan melalui unggulan kompetensi menuju Indonesia Emas. Beberapa maestro seni diundang untuk bersama dan membersamai para perupa pejuang menuju 'Ruang Seni Indonesia’. Penampilan potensi seni ini memberi kesempatan seniman dalam berbagai genre karya rupa, mulai dari seni tradisi, seni klasik, seni modern maupun seni kontemporer berbasis 'Marwah Keistimewaan'.

 

Pameran seni rupa menguatkan UUK DIY ini menghadirkan kurang lebih 150 karya yang berasal dari perupa Yogyakarta yang berdomisili di DIY maupun para perupa tamu yang sudah mendapat predikat senior baik dalam usia maupun mutu karya. Para perupa ini tergabung dalam kelompok, sanggar, satuan kerja yang diseleksi berdasarkan kualitas, jenis, media dan cara mempertunjukkan.

 

Terkini