pariwisata

Begini Sejarah Pasar Legi Jogja yang Lebih Tua dari Pasar Legi Solo

Minggu, 3 Maret 2024 | 21:47 WIB
Pasar Legi Kota Gede (Dok.Pemprov Jogja)

TITIKTEMU.CO - Baik Solo dan Jogja sama-sama mempunyai pasar yang bernama Pasar Legi. Bedanya, Pasar Legi di Jogja lebih tua daripada Pasar Legi yang ada di Kota Solo.

Pasar Legi Solo

Pasar Legi di Solo, dibangun oleh KGPAA Mangkunegara I, penganggeng Pura Mangkunegaran di Surakarta, sedangkan Pasar Legi Kota Gede Jogja jauh seratusan tahun sebelumnya dibangun. Begini sejarahnya.

Seperti diketahui warga Jogja bahwa Pasar Legi Kotagede dikenal sebagai sebuah pasar tradisional tertua di Kota Gudeg, Jogja. Pasar ini kaya akan sejarah karena dibangun oleh Ki Ageng Pamanahan sekitar tahun 1549 silam di atas lahan Hutan Mentaok.

Baca Juga: Seru, Ada nJagong Ing Jagang Di Kota Gede Akhir Pekan Ini

Hutan tersebut merupakan hadiah dari Sultan Hadiwijaya, raja Kesultanan Pajang yang situsnya berada di Kabupaten Sukoharjo.

Menurut Babad Tanah Jawi, pasar ini berawal dari hadiah Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pamanahan usai menyingkirkan Arya Penangsang pada tahun 1549.

Hadiah berupa tanah di Mentaok, antara Mataram dan Pati, kemudian dirancang menjadi pasar oleh Ki Ageng Pamanahan. Dia berpendapat bahwa membangun pasar terlebih dulu jauh lebih penting dibandingkan mendirikan keraton sebagai pusat pemerintahan.

Baca Juga: Padukan Wisata Belanja dan Kuliner di Yogya Lewat Street Harmony

Konsep Catur Gatra Tunggal

Pasar Legi Kotagede menjadi bagian dari konsep Catur Gatra Tunggal yang dibuat oleh pendiri Kerajaan Mataram Islam. Konsep tersebut mengedepankan empat hal, yaitu keraton sebagai pusat kerajaan, alun-alun untuk tempat berkumpul, masjid sebagai sarana ibadah, dan pasar sebagai pusat ekonomi serta pusat interaksi warga.

Pasar ini awalnya berada di antara kerimbunan pohon-pohon besar. Namun, seiring perkembangan waktu, pasar ini kemudian dinamai juga sebagai Pasar Legi karena aktivitas transaksi yang paling ramai terjadi pada hari pasaran Legi menurut kalender Jawa.

Baca Juga: Calon Haji Jamaah Bandara Adi Sumarmo Solo , Tahun Ini Dipermudah Imigrasinya

Pada hari pasaran tersebut, selain kebutuhan hidup sehari-hari, juga dijual berbagai jenis kain batik, barang-barang besi dan tembaga, serta produk gerabah.

Pasar Legi Kotagede mengalami perkembangan pesat di era kolonial Hindia Belanda. Para pedagang dari luar Jogja datang dan menetap, mengembangkan jenis perdagangan baru seperti kerajinan perak, kedai makanan dan minuman, serta penjualan kayu bakar.

Halaman:

Tags

Terkini