TITIKTEMU.CO, Gelaran Keroncong Plesiranmemukau penonton yang memadati Panggung Terbuka Mardigdo Hutan Pinus Asri Mangunan, Bantul akhir pekan lalu (20/07). Pertunjukan ini mengemas pengalaman plesiran unik dengan mengajak penonton untuk refreshing dan relaksasi di kawasan hutan pinus sambil menikmati alunan musik keroncong.
Musik keroncong tidak lagi dinilai ketinggalan zaman, karena diubah konsepnya dengan tampilan lebih segar, muda dibalut aransemen musik kekinian. Para penampil di Keroncong Plesiran pun memberikan sentuhan warna baru.
Pertunjukan yang diinisiasi komunitas Simphony Kerontjong Moeda ini didukung Dinas Pariwisata DIY dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif dibagi menjadi dua sesi pertunjukkan. Sesi pertama bertajuk Nyore di Hutan pukul 16.00-18.30 WIB, sedangkan sesi kedua bertajuk Malam di Hutan berlangsung pukul 19.30-23.00 WIB.
Penampilan apik para musisi mampu memukau setidaknya 1.500-an penonton yang hadir di Keroncong Plesiran edisi 8. Orkes Keroncong Hamkri Bantul, Orkes Keroncong Pramudya Swara, dan Orkes Keroncong Hompimpah Ponorogo tampil pada sesi pertama. Selanjutnya tampil sejumlah musisi kenamaan mulai dari Okky Kumala, Paksi Raras Alit, Mas Dodho, Ardhito Pramono, Isyana Sarasvati ditutup Jogja Hip Hop Foundation dengan Boris Sirait bertindak sebagai konduktor.
Baca Juga: WOW ! Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Rembang Meningkat Tajam
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo menegaskan selain menjadi bentuk apresiasi dan pelestarian musik keroncong, gelaran ini dapat menjadi media promosi destinasi wisata di DIY sehingga berdampak terhadap sektor pariwisata di wilayah tersebut. Keroncong Plesiran tak hanya menawarkan pertunjukan musik tetapi pengalaman wisata yang unik.
"Keroncong Plesiran berhasil menarik minat generasi muda terhadap musik tradisional. Dengan pendekatan yang segar dan inovatif, festival ini membuktikan musik keroncong masih relevan dan menarik bagi berbagai kalangan sampai akhirnya bisa membumi" tandasnya
Singgih mengatakan Keroncong Plesiran menerapkan konsep 3A pariwisata yaitu Amenitas, Aksesibilitas dan Atraksi. Hal ini menjadikan event ini tidak hanya menarik bagi pencinta musik, tetapi juga bagi para wisatawan. Event ini menjadi kebanggaan komunitas dan memperkuat ekosistem kesenian khususnya keroncong.
"Dampak positif digelarnya acara ini dapat dirasakan berbagai pihak mulai dari seniman, pelaku dan pekerja event, hingga masyarakat setempat. Kesuksesan event ini menunjukkan kolaborasi pemerintah, komunitas dan sektor swasta dapat menciptakan model pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif berkelanjutan" ungkapnya.
Baca Juga: Upacara Adat Hajad Dalem, Larung Hasil Bumi Hingga Pakaian
Ketua Panitia Keroncong Plesiran, Ari Kancil menyampaikan dalam festival keroncong plesiran edisi 8 ini pihaknya kembali menghadirkan sederet artis nasional dan lokal ternama baik solo maupun orkestra. Pihaknya menghadirkan berbagai format keroncong, mulai dari keroncong asli, modern hingga format orkestra sebagai upaya memberikan pengalaman musik keroncong yang beragam dan inovatif.
"Event ini buka sekadar pertunjukan musik biasa. Event ini memberikan pengalaman estetis berupa kebebasan berekspresi dan berimprovisasi bagi para musisi yang tampil. Kami mengajak penonton menikmati pertunjukan yang menawarkan nuansa refreshing di alam terbuka. Alunan musik keroncong progresif berpadu harmonis dengan keindahan alam sekitar," paparnya
Keroncong Plesiran telah membuktikan pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan inovasi dan kemandirian ekonomi. Festival ini tak hanya melestarikan musik keroncong dengan sentuhan modernitas, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap pariwisata dan ekonomi kreatif setempat.
Artikel Terkait
Desa Krebet Diharapkan Ikuti Jejak Nglanggeran Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia
Ada Lomba Desain Batik Sawit, Pacu Kreatifitas Desainer dan Pembatik Yogyakarta
Upacara Adat Hajad Dalem, Larung Hasil Bumi Hingga Pakaian
Desa Wisata Jatimulyo Masuk 50 Besar ADWI 2024, Apa Istimewanya ?
WOW ! Kunjungan Wisatawan di Kabupaten Rembang Meningkat Tajam