Kemenangan paling berkesan saat Indonesia mengalahkan Bahrain dan China dengan skor tipis 1-0 dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Hasil ini sempat memunculkan optimisme karena menunjukkan efektivitas permainan tim meski dengan jumlah gol yang kecil.
Selain itu, kemenangan terbesar terjadi dalam laga uji coba melawan China Taipei pada 5 September 2025, di mana skuad Garuda menang telak 6-0.
Kemenangan ini sempat dianggap sebagai bukti potensi serangan agresif yang coba dibangun Kluivert di lini depan.
Namun, di sisi lain, performa negatif juga mencolok. Indonesia harus menelan empat kekalahan, termasuk dua hasil telak: 1-5 dari Australia dan 0-6 dari Jepang.
Dua kekalahan itu menjadi sinyal bahwa strategi Kluivert belum mampu mengimbangi kekuatan tim elite Asia.
Memasuki putaran keempat, catatan buruk berlanjut setelah Skuad Garuda kalah 2-3 dari Arab Saudi dan 0-1 dari Irak.
Kekalahan dari Arab Saudi menjadi pukulan tersendiri karena sebelumnya Indonesia sempat menahan imbang, dan bahkan menang atas tim tersebut pada 2024.
Satu-satunya hasil imbang terjadi dalam uji coba melawan Lebanon, yang berakhir tanpa gol. Hasil ini memperlihatkan masih lemahnya kreativitas serangan Indonesia di bawah arahan Kluivert.
Evaluasi dan Kritik untuk Patrick Kluivert
Dari segi permainan, publik sempat melihat peningkatan dalam penguasaan bola dan pola serangan terstruktur. Namun, permasalahan utama ada pada penyelesaian akhir.
Para penyerang Garuda sering kesulitan menuntaskan peluang, sementara lini belakang masih rapuh menghadapi serangan cepat lawan.
Banyak pengamat menilai gaya bermain Eropa yang coba diterapkan Kluivert tidak sepenuhnya cocok dengan karakter pemain Indonesia.