Zayu terinspirasi dari hutan tropis Meksiko selatan. Jaguar ini menjadi lambang kekuatan, keberanian, sekaligus kekayaan budaya Meksiko yang penuh warna.
Di lapangan, Zayu digambarkan sebagai penyerang cerdas dengan strategi brilian. Ia cepat, gesit, dan selalu mampu menciptakan peluang berbahaya.
Sementara di luar lapangan, Zayu akrab dengan tradisi Meksiko, mulai dari tarian, musik, hingga kuliner, yang memperlihatkan kehangatan serta kebersamaan masyarakatnya.
3. Clutch, Elang Botak Kharismatik dari Amerika Serikat
Elang botak yang menjadi simbol nasional Amerika Serikat kini menjelma dalam sosok Clutch. Karakter ini penuh semangat, optimisme, dan haus petualangan.
Sebagai kapten di lapangan, Clutch digambarkan mampu menginspirasi rekan setimnya. Di luar lapangan, dia perekat sosial yang menghubungkan berbagai kalangan. Clutch adalah wajah keterbukaan Amerika.
Lebih dari Sekadar Maskot
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menekankan bahwa Clutch, Zayu, dan Maple bukan hanya ikon visual. Mereka adalah representasi nilai-nilai yang ingin dibawa Piala Dunia: persatuan dalam keragaman.
“Maskot ini bukan hanya sekadar simbol turnamen, tetapi juga jembatan budaya yang menyatukan masyarakat dunia,” ujar Infantino.
Trio maskot Piala Dunia 2026 ini juga akan hadir di berbagai platform digital. Salah satunya lewat FIFA Heroes, gim arcade lima lawan lima yang dikembangkan bersama ENVER dan Solace.
Selain itu, mereka juga muncul di FIFA Super League Soccer di Roblox, lengkap dengan misi khusus bertema Piala Dunia 2026. Dunia digital akan membuat ketiga maskot semakin dekat dengan generasi muda.
Tradisi Panjang Maskot Piala Dunia
Maskot bukan hal baru dalam sejarah Piala Dunia. Tradisi ini dimulai sejak 1966 di Inggris dengan hadirnya World Cup Willie, seekor singa yang menjadi ikon legendaris.