Artinya, semua pertandingan dari masing-masing grup hanya akan dimainkan di satu atau dua negara tertentu, bukan dengan sistem kandang-tandang (home and away) seperti sebelumnya.
Keputusan untuk menunjuk Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah dinilai menguntungkan tim-tim dari Asia Barat.
Beberapa pengamat juga mempertanyakan kenapa negara seperti Jepang, Korea Selatan, atau Australia tidak dipertimbangkan sebagai lokasi netral yang lebih adil.
Baca Juga: Eks Pelatih Timnas Putri Indonesia Rudy Eka Resmi Latih Tim Wanita Al Nassr FC di Arab Saudi
Federasi dan Publik Mulai Bereaksi
Tak hanya Coach Justin, berbagai kalangan mulai menunjukkan ketidakpuasan terhadap keputusan AFC. Beberapa federasi seperti PSSI dan FA Irak dikabarkan mengajukan permintaan agar AFC meninjau ulang penetapan tuan rumah.
Di media sosial, kritik terhadap AFC ramai disuarakan. Tagar seperti #AFCUnfair dan #NeutralVenue sempat trending di beberapa negara Asia.
Banyak yang merasa bahwa dominasi negara-negara kaya seperti Arab Saudi dan Qatar terlalu besar dalam pengambilan keputusan AFC.
Peluang Garuda Masih Terbuka, Tapi Berat
Meski tergabung di grup berat dan bermain di “kandang lawan”, peluang Timnas Indonesia tetap terbuka.
Dalam format ini, dua tim dari masing-masing grup akan lolos otomatis ke Piala Dunia 2026, sementara tim peringkat ketiga akan mengikuti jalur playoff.
Jika skuad Garuda mampu mencuri poin dari dua lawan tangguh tersebut dan menjaga konsistensi permainan, bukan tidak mungkin mereka bisa menciptakan kejutan.
Dukungan penuh dari publik Tanah Air dan kesiapan mental akan menjadi kunci.
Round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 tampaknya menjadi ujian terberat bagi Timnas Indonesia.
Tidak hanya karena kualitas lawan yang luar biasa, tetapi juga karena kontroversi lokasi pertandingan yang dinilai tidak netral.