Tampak dalam sebuah cuitan, ada warganet yang menyoroti para warga Korea yang ikut mendukung laga itu dengan menyanyikan yel-yel bersama-sama di GBK.
"Untuk pertandingan melawan Jepang nanti, para ekspatriat dari Korea yang tinggal di Indonesia akan ikut mendukung Indonesia dengan menyanyikan yel-yel melawan Jepang," tutur seorang warganet melalui akun @Bintang, pada Minggu, 27 Oktober 2024.
Baca Juga: Sanksi dan Ketentuan Bagi Peserta yang Tidak Ikut Tes SKD CPNS 2024
Kolom komentar cuitan itu pun ramai dipenuhi warganet yang menyebut adanya dendam sejarah masa lalu dari para warga Korea Selatan.
“Karena dendam juga sih, makanya dukung lawannya Jepang, bakal seru kayaknya,” ujar seorang warganet dengan akun @kimmy.
“Dendam terselubung pun dikerahkan, ayo bersatu para korban jajahan nippon (Jepang),” ungkap warganet melalui akun X @lunsadie.
Berkaca dari hal itu, mari mengintip perjalanan sejarah warga Korea Selatan yang tunduk dalam masa penjajahan Jepang:
Baca Juga: Kemenag & Kemenkes Susun Rencana Kebutuhan Obat dan Vaksin Haji 2025
Kemunduran Dinasti Joseon
Bangsa Korea masih sulit melupakan sejarah kelam dari penjajahan Jepang. Pada akhir abad ke-19, Semenanjung Korea di bawah Dinasti Joseon terancam dengan modernisasi Jepang pasca Restorasi Meiji tahun 1868.
Bersama negara barat, Jepang memulai industrialisasi besar-besaran dan sangat membutuhkan sumber daya alam untuk mendukung kebutuhan industrinya.
Dinasti Joseon yang telah berkuasa sekitar 500 tahun, mengalami kemunduran karena kebijakan isolasi dan masih mempertahankan status quo sebagai negara upeti di bawah Dinasti Qing Tiongkok.
Baca Juga: Dugaan Politik Uang di Pilgub Jateng 2024: Tim Luthfi-Yasin Melapor ke Bawaslu
Strategi Diplomasi Kapal Perang
Jepang menggunakan strategi yang disebut Big Stick Diplomacy (Diplomasi Kapal Perang) untuk memaksa Korea menjadi negara yang terbuka dan dapat dipengaruhi.