TITIKTEMU.CO, Bangli – BRI melalui aktivitas Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli kembali melaksanakan program BRI Menanam – Grow & Green dengan kegiatan penanaman pohon produktif di Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Selain mendukung upaya pemerintah memerangi perubahan iklim dan menjaga keseimbangan lingkungan, kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia yang melibatkan kelompok tani dan masyarakat lokal pada Senin (25/11/2024).
Baca Juga: BRI Mini Soccer Media Clash Sukses Digelar, BRI Gandeng Kuy Media Group dalam Rangka HUT ke-129
Sebanyak 5.000 bibit pohon dibagikan ke kelompok tani setempat, yang terdiri dari 1.500 bibit tanaman alpukat dan 3.500 bibit tanaman matoa.
Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengungkapkan bahwa pelaksanaan program BRI Menanam – Grow & Green di Desa Kutuh merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab BRI dalam menjaga keseimbangan alam dan lingkungan serta membantu mendorong perekonomian masyarakat setempat.
Baca Juga: Buka Lowongan Kerja di PDAM Subang! Kesempatan Berkarir untuk Lulusan Muda
Catur mengungkap dengan program ini, pihaknya membantu masyarakat setempat untuk menjaga alam dan keseimbangan lingkungan.
Tanaman yang ditanam juga suatu saat nanti bisa membantu perekonomian masyarakat setempat.
Baca Juga: Membangun Kebiasaan Positif: Kunci Sukses untuk Gen Z di Era Digital
“Ini adalah bentuk komitmen BRI dalam mendukung pembangunan dan pertumbuhan kinerja berkelanjutan yang berbasis Environment, Social and Governance (ESG)”, ungkap Hendy.
Program ini juga menjadi wadah untuk mewujudkan praktik pembangunan berkelanjutan yang memliki tujuan untuk melestarian lingkungan, menyerap karbon, memberdayakan masyarakat dan meningkatan perekonomian.
Dalam pelaksanaannya, BRI menggandeng Yayasan Ladang Sinergi Lestari, membantu melakukan pendampingan, monitoring dan evaluasi program.
Baca Juga: Kalau Uji Kompetensi Warga Belajar Paket C Dukung Kemandirian Ekonomi
Sementara itu, I Wayan Swastika (44) selaku Ketua Kelompok Munduk Buluh mengatakan bahwa sebelumnya anggota kelompoknya adalah para petani di Desa Kutuh yang belum bisa menggarap hutan karena tidak mendapakan ijin dari pemerintah.