Semula saya tidak tertarik dengan judul novel ini Gadis Kretek. Yang ada dalam pikiran saya cuma cerita tentang pabrik rokok. Kenapa? Karena saya sendiri tidak merokok. Suatu saat ada seorang teman yang merekomendasikan novel ini. Novel ini ciamik, katanya. Dan akhirnya novel ini ada di tangan saya.
Cerita pembukaan langsung membuat orang penasaran, Siapa, sih, Jeng Yah? Ada hubungan apa antara ayah mereka dan wanita ini. Pembukaan cerita ini adalah pintu gerbang memasuki inti cerita.
Baca Juga: Menteri Bintang Minta Kasus Pencabulan Santriwati oleh Mas Bechi Segera Dituntaskan!
Tetapi meskipun saya sudah mencapai Bab 6 pada halaman 103, saya masih belum mengetahui siapa Jeng Yah. Penulisnya benar-benar ciamik menyembunyikan tokoh satu ini. Bahkan ketika tokok Dasiyah dan Rukayah mulai muncul, saya juga masih bingung.
Anda lihat sendiri, baik Dasiyah dan Rukayah sama-sama memiliki akhiran Yah. Jadi saya tidak tahu mana diantara keduanya yang dimaksud oleh Soeraya.
Novel ini termasuk novel etnik. Berbau budaya jawa. Anda akan menjumpai banyak istilah dalam Bahasa Jawa. Tetapi jangan kuatir, pihak penerbit sudah menyediakan terjemahannya di akhir tiap bab. Ini fenomena baru bagi saya.
Baca Juga: Pelecehan Seksual Suporter Bola Terhadap Jurnalis Liputan6.com di Yogyakarta Tuai Kecaman
Biasanya penjelasan arti dalam bentuk catatan kaki di bagian bawah halaman, atau langsung diterjemahkan di samping kalimatnya seperti Marga T, atau langsung diubah ke dalam Bahasa Indonesia seperti Mira W.
Keuntungan cara ini membuat pembaca tidak terganggu saat membaca dan sekaligus juga dapat merasakan budaya Jawa lewat kata-katanya namun tetap masih bisa mengerti artinya.
Novel ini lebih banyak menggunakan narasi daripada dialog. Saya bisa mengerti hal ini. Novel ini sarat isi. Jika menggunakan banyak dialog, akan membuat novel ini sangat tebal.
Baca Juga: Manchester United Hempaskan Liverpool 4-0 di Bangkok Century Cup
Isi dalam novel ini bisa dikatakan dapat menambah perbendaharaan budaya Jawa, khususnya mengenai pergerakan pabrik kretek di awal-awal berdirinya Indonesia. Saya sangat bersyukur bisa membacanya.
Mungkin ini adalah salah satu novel yang membuat rasa fiksi dan non-fiksi tercampur dalam satu buku. Saya bisa merasakan pergulatan fiksi pada cerita Soedrajat, Idroes dan Roemaisa dan pengetahuan tentang rokok lewat istilah-istilah dan cerita dinamika di pabrik rokok tersebut.
Bagi saya, dalam jajaran novel etnik, Gadis Kretek setingkat di bawah Ronggeng Dukuh Paruk karya Tohari. Pada Ronggeng Dukuh Paruk, baik fiksi dan narasi tentang dunia ronggeng (non-fiksi) sama-sama memuaskan saya.
Baca Juga: Jangan Sembarangan Beri Data Pribadi ke Orang lain. Awas Penipuan Terkait Rekening Bank