Rumor yang beredar karena Tukul meminta honor yang semula Rp 60 juta per episode naik menjadi Rp 90 juta.
Permintaan itu tidak direspon. Tukul tidak pernah mengklarifikasi isu itu. Apa pun alasannya, program ini tamat setelah tayang lebih dari 2.000 episode.
Tapi nama Tukul telanjur besar, dan tentu saja telanjur kaya raya. Namun, pencapaiannya itu tidak terjadi secara instan.
Nama lahir komedian ini Riyanto. Tambahan Tukul diberikan karena saat kecil sakit-sakitan. Lahir di Semarang 16 Oktober 1963, Tukul serba kekurangan.
Orang tuanya, Abdul Wahid dan Sutimah, tidak pernah mudah untuk membayar uang sekolah. Tukul pun menjadi sopir angkot di Semarang, kemudian sopir truk gas elpiji.
Baca Juga: Wajib Tahu, Pendarahan Otak Bisa Dikenali dari Gejala Ini
Pada 1992 ia mengadu nasib di Jakarta bermodal bakat melawak. Tukul memang memiliki banyak piagam juara lawak sejak SD.
Tiga tahun di Jakarta nasibnya tidak juga berubah. Di tengah keuangan yang masih tak menentu, Tukul nekad menikahi Susiana atau Susi Similikiti.
Mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana di daerah Cipete Utara, Jakarta Selatan. Kali ini, Tukul melamar pekerjaan di Radio Humor SK.
Diterima. Gajinya sebesar Rp 75 ribu. Tukul bekerja bersama sejumlah pelawak, seperti Bagito, Patrio, Ulfa Dwiyanti, dan lainnya.
Dari radio, Tukul mulai mendapat tawaran bermain dalam produksi Lenong Rumpi oleh Ramon Papana.
Karir terbaiknya di masa-masa itu adalah ketika menjadi figuran di video klip penyanyi cilik Joshua Suherman untuk lagu “Air” (Diobok-obok) yang terkenal itu.
Pintu keberuntungannnya mulai terbuka. Tukul lolos audisi presenter untuk acara “Aduhai” di TPI dan “Dangdut Ria” di Indosiar. Itulah tangga Tukul menuju kesuksesan.
Tukul menyebutnya sebagai “kristalisasi keringat”. Kira-kira jargon itu sama dengan ungkapan usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Tukul bukan asal ngomong. Ia mengalaminya sendiri.