TITIKTEMU.CO - Nama Joko Anwar kembali menjadi perbincangan setelah merilis film horor terbarunya berjudul Ghost in the Cell, sebuah karya yang tidak hanya menawarkan ketegangan khas film seram tetapi juga menyelipkan kritik sosial tajam mengenai sistem kekuasaan di balik tembok lembaga pemasyarakatan.
Dalam film ini, horor bukan sekadar tentang sosok gaib atau kejutan visual yang membuat penonton terlonjak di kursi, melainkan tentang bagaimana sisi gelap manusia bisa menjadi sumber teror yang jauh lebih mengerikan daripada makhluk tak kasat mata.
Cerita dalam Ghost in the Cell berpusat pada kemunculan sebuah entitas misterius yang tertarik pada aura negatif manusia seperti kebencian, kemarahan, dan dendam.
Baca Juga: Self-Care Viral TikTok vs Self-Care Nyata: Kenapa Kamu Tetap Lelah Meski Sudah Me Time?
Semakin kuat emosi gelap yang muncul, semakin besar pula kekuatan teror yang mengancam mereka yang berada di sekitarnya.
Premis ini menjadi metafora yang kuat bahwa kejahatan manusia sering kali justru memanggil kengerian yang lebih besar, seolah-olah kejahatan itu sendiri menciptakan “setan” yang sesungguhnya.
Pendekatan semacam ini membuat film terasa bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga menimbulkan rasa tidak nyaman secara psikologis.
Secara visual, Ghost in the Cell tampil berani dengan adegan-adegan intens yang memanfaatkan elemen gore secara cukup eksplisit.
Namun yang membuat film ini terasa berbeda adalah penggunaan simbol-simbol psikologis yang memicu ketidaknyamanan tertentu, terutama bagi mereka yang memiliki fobia terhadap pola lubang kecil yang berulang atau dikenal sebagai trypophobia.
Dalam beberapa adegan, pola lubang yang tampak menyeramkan digambarkan menyerupai parasit atau proses pembusukan.
Simbol tersebut bukan sekadar efek visual, melainkan representasi dari kerusakan moral yang perlahan menggerogoti manusia di dalam cerita.
Lubang-lubang itu seolah menjadi metafora bahwa kejahatan tidak muncul begitu saja, tetapi tumbuh dari sistem yang rusak dan dibiarkan membusuk terlalu lama.
Baca Juga: Uang Kamu Diam-Diam Menyusut? Ini 7 Cara Sederhana Lindungi Aset di Tengah Ketidakpastian 2026
Latar cerita film ini berpusat di sebuah penjara fiktif bernama Lapas Labuan Angsana, tempat yang digambarkan sebagai miniatur sebuah negara kecil dengan relasi kekuasaan yang timpang.