TITIKTEMU.CO - Film Para Perasuk tayang di bioskop Indonesia sejak 23 April 2026. Garapan sutradara Wregas Bhanuteja ini langsung menyedot perhatian. Film ini sebelumnya tayangb di sejumlah festival internasional.
Wregas dikenal lewat karya-karya kuat seperti Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti yang sukses secara kritik maupun popularitas. Lewat Para Perasuk, dia kembali menawarkan pendekatan yang tak biasa.
Alih-alih menghadirkan cerita kerasukan sebagai horor mencekam, film ini justru mengemasnya menjadi drama fantasi yang penuh warna dan estetika.
Baca Juga: Wasiat Warisan Masuk Top 10 Netflix, Drama Keluarga Batak dalam Balutan Budaya
Desa Latas dan Tradisi Kerasukan yang Tak Biasa
Cerita film ini berpusat di Desa Latas, sebuah desa fiktif dengan tradisi unik bernama pesta sambetan. Di tempat ini, fenomena kerasukan dianggap biasa, dan menjadi bagian dari hiburan.
Penduduk desa bahkan menjadikan kerasukan sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup sehari-hari. Tradisi ini menciptakan dunia yang terasa aneh, tapi juga memiliki logika dan aturan tersendiri.
Konsep inilah yang menjadi daya tarik utama film. Wregas berhasil mengubah sesuatu yang biasanya identik dengan ketakutan menjadi ruang ekspresi budaya yang hidup.
Baca Juga: 5 Villain di Serial Spider Noir: Dari Sandman hingga Bos Mafia Silvermane
Ambisi Bayu yang Berubah Jadi Obsesi
Tokoh utama dalam film ini adalah Bayu, yang diperankan oleh Angga Yunanda. Dia merupakan pemuda desa yang memiliki ambisi besar untuk menjadi perasuk terbaik di Desa Latas.
Ambisinya bukan sekadar untuk popularitas, tapi juga demi mendapatkan pengakuan sosial dan memperbaiki kehidupannya. Namun, ambisi berubah menjadi obsesi yang perlahan menggerus dirinya sendiri.
Perjalanan emosional Bayu ditampilkan dengan cukup kuat. Angga Yunanda berhasil menunjukkan transformasi karakter dari sosok penuh semangat menjadi pribadi yang kehilangan kendali atas dirinya.
Baca Juga: Sedang Tayang di Bioskop, Apa yang Menarik dari Film Mother Mary?