entertainment

Sedang Tayang di Bioskop! Review Film Yohanna: Potret Kelam Eksploitasi Anak di Sumba Timur  

Sabtu, 11 April 2026 | 22:19 WIB
Sedang Tayang di Bioskop! Review Film Yohanna: Potret Kelam Eksploitasi Anak di Sumba Timur. (IMDb)

TITIKTEMU.CO - Film Yohanna garapan sutradara Razka Robby Ertanto tayang di bioskop Indonesia sejak 9 April, dan langsung mencuri perhatian.

Film ini sebelumnya telah diputar di berbagai festival internasional, termasuk Festival Film Internasional Rotterdam pada awal 2024.

Di Indonesia, penayangan perdananya di ajang Jakarta Film Week pada Oktober 2024. Sejak saat itu, Yohanna menjadi salah satu film dengan tema sosial paling dinanti di bioskop.

Dibintangi Laura Basuki, film ini mengangkat kisah seorang biarawati muda yang bertugas di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Dia harus menghadapi realitas pahit eksploitasi anak dan berbagai masalah sosial.

Baca Juga: Cerita Lila, Kisah Viral Sara Wijayanto di YouTube Difilmkan, Sehoror Apa? 

Sumba Timur: Keindahan yang Menyimpan Luka

Dalam Yohanna, Sumba Timur bukan sekadar latar tempat, melainkan menjadi karakter yang hidup dan berpengaruh besar terhadap cerita.

Keindahan alamnya tampil kontras dengan realitas sosial yang memilukan. Budaya lokal tergambar lewat tarian tradisional, kuda, hingga rumah adat megah di tengah lanskap kering.

Kain tenun khas daerah juga dihadirkan sebagai simbol warisan budaya yang terus dijaga. Pendek kata, Sumba Timur layaknya surge.

Namun, di balik keindahan itu tersimpan kisah pilu. Salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika anak-anak harus menjual minuman keras di pasar tradisional demi bertahan hidup.

Baca Juga: Sinopsis Euphoria Season 3: Jadwal Episode Lengkap dan Link Nonton Sub Indo 

Realitas Sosial yang Disajikan Tanpa Polesan

Film ini menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat secara jujur dan tanpa dramatisasi berlebihan. Jalanan berdebu, pasar kumuh, hingga kondisi ekonomi yang sulit.

Penonton diajak melihat bagaimana kemiskinan ekstrem memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Anak-anak kehilangan masa kecilnya, sementara orang dewasa bergulat dengan berbagai keterbatasan.

Halaman:

Tags

Terkini