Baca Juga: Bridgerton Season 5 Angkat Kisah LGBT, Fokus pada Francesca
Kontroversi Sejak Awal Tayang
Alih-alih menuai pujian, film ini justru diterpa berbagai isu negatif. Salah satunya adalah dugaan penggunaan buzzer di media sosial untuk membangun opini positif sekaligus menjatuhkan film pesaing.
Tak hanya itu, keterlibatan RANS Entertainment sebagai produser eksekutif juga memicu perdebatan di kalangan netizen. Bahkan, sempat muncul seruan boikot yang semakin memperkeruh situasi.
Dampak dari berbagai kontroversi tersebut terlihat jelas pada performa film. Di platform IMDb, Pelangi di Mars hanya meraih rating sekitar 5,8 dari 10, menjadikannya film dengan nilai terendah di antara rilisan Lebaran.
Dari sisi jumlah penonton, capaian film ini juga belum memuaskan. Hingga 25 Maret 2026, jumlah penonton diperkirakan baru mencapai sekitar 173 ribu.
Angka ini jauh tertinggal dibanding film horor Danur: The Last Chapter yang sudah menembus lebih dari 1,5 juta penonton dalam waktu singkat.
Baca Juga: First Look Serial Harry Potter Dirilis, Dominic McLaughlin Tampil sebagai Pemain Quidditch
Kritik Tajam dari Penonton
Sejumlah penonton dan kritikus memberikan sorotan tajam terhadap film ini. Salah satu isu yang mencuat adalah dugaan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam proses visual.
Meski CGI dianggap cukup memukau, sebagian pihak menilai penggunaan AI berpotensi mengancam pekerja kreatif di industri film. Selain itu, alur cerita juga dinilai kurang solid dengan celah logika atau plot hole.
Persaingan ketat di musim Lebaran 2026 membuat posisi Pelangi di Mars semakin tertekan. Film lain seperti Tunggu Aku Sukses Nanti meraih rating tinggi hingga 8,3 di IMDb dan mendapatkan respons positif dari penonton.***