Tagar #JadiAnakAnak
Bukan sekadar cerita tentang anak di Surabaya tahun 1968, melainkan dunia 1968 yang dilihat oleh anak berusia enam tahun.Tagar #JadiAnakAnak menjadi jantung kampanye film ini.
Perbedaan halus ini menciptakan pengalaman sinematik yang unik—penonton diajak masuk ke isi kepala Na Willa, mendengar narasinya, memahami cara berpikirnya, dan merasakan dunianya yang penuh rasa ingin tahu.
Sebuah ajakan sederhana namun kuat: berhenti sejenak dari peran dan tanggung jawab orang dewasa, lalu kembali pada momen ketika kebahagiaan hadir dari hal-hal kecil.
Adegan berlari di lapangan, menikmati minuman jeruk dingin yang “nyekrusss”, hingga tawa bersama sahabat di Gang Krembangan menjadi potongan nostalgia yang hangat sekaligus relevan lintas generasi.
Baca Juga: Cita-cita Jadi Kiai Pupus: Tragedi NS di Sukabumi dan Dugaan Penganiayaan Ibu Tiri
Film ini dibintangi Luisa Adreena sebagai Na Willa, bersama Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy.
Deretan aktor senior seperti Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, hingga Ratna Riantiarno turut memperkaya cerita.
Klilaborasi lintas generasi ini mempertegas bahwa Na Willa bukan hanya film anak-anak, melainkan film keluarga Indonesia.
Menariknya lagi, proyek ini tak berhenti di satu layar lebar.
Visinema Studios telah menyiapkan Na Willa Universe, semesta cerita yang akan berkembang mengikuti perjalanan karakter utama, sebagaimana trilogi novelnya.
Baca Juga: LINK NONTON Film Pavane Sub Indo di Netflix, Sinopsis Lengkap
Ruang Bermain dan Memori Masa Kecil
Ryan menilai perjalanan hidup Na Willa—dari gang kecil di Surabaya hingga fase kehidupan berikutnya—terlalu berharga untuk dipadatkan dalam satu film saja.
Lebih dari sekadar tontonan Lebaran 2026, Na Willa hadir sebagai ruang aman untuk keluarga. Bagi orang dewasa, ia menjadi perjalanan pulang menuju memori masa kecil.
Bagi anak-anak, ia adalah ruang bermain, bernyanyi, dan merayakan imajinasi tanpa batas.