Anak kemudian bisa bergantung pada ibu yang terlalu memanjakan, sehingga proses kemandirian dan kedewasaan jadi terhambat.
Kiley juga menyebut anak bisa terdorong mandiri sebelum siap, lalu akhirnya merasa ditinggalkan saat masih rapuh.
Baca Juga: Empat Titik Disisir Kejagung: Dugaan Korupsi Kemenhut Bikin Jakarta–Bogor Ikut Panas
Selain itu, anak laki-laki yang tumbuh di keluarga penuh konflik, dendam, dan saling menyalahkan disebut lebih rentan mengalami sindrom ini.
Dalam situasi tersebut, ibu bisa menggantungkan emosi pada anak, sementara ayah menjadikan anak sebagai penengah konflik rumah tangga.
Akhirnya anak tumbuh dengan beban emosional besar dan sulit berkembang menjadi pribadi yang benar-benar mandiri.***
Lewat cerita Onad, publik melihat bahwa rehabilitasi bukan hanya soal hukuman, tetapi juga proses memahami diri dan belajar tumbuh lebih dewasa.