Dari Liang Langit ke Para Petarung
Teater Djarum dikenal konsisten mengeksplorasi artistik yang berani. Misalnya lewat Para Petarung yang hadir dengan kostum dan dandanan era tahun 1970-an.
Sebelumnya, mereka pernah mementaskan Liang Langit (2024) dan Petuah Tampah yang sama-sama mengeksplorasi properti dan setting unik di panggung.
Melalui Para Petarung, kelompok teater internal PT Djarum ini kembali membuktikan bahwa mereka tidak takut bereksperimen. Para pemain terdiri dari karyawan perusahaan rokok raksasa tersebut.
Meski, sebelumnya mereka harus menghidupkan teater ini secara mandiri. Mereka bahkan butuh waktu tiga tahun untuk diakui sebagai teater perusahaan.
Baca Juga: Aktor dan Seniman Teater Gunawan Maryanto Meninggal, Pernah Perankan Widji Tukul
Kritik Sosial dalam Balutan Drama
Para Petarung menyoroti konflik manusia di lingkungan perusahaan, lengkap dengan intrik jabatan, pengkhianatan, dan perebutan posisi.
Cerita ini menampilkan paradoks kehidupan, yaitu hubungan yang awalnya harmonis bisa runtuh oleh sistem yang penuh ambisi.
Ada tokoh yang tampak baik tetapi kemudian menunjukkan sisi gelapnya, ada pula yang seolah jahat namun justru menampilkan sisi manusiawi di akhir cerita.
Perubahan karakter ini membuat penonton disadarkan bahwa manusia selalu hidup dalam dualitas, yaitu punya potensi menyakiti sekaligus kemampuan untuk memaafkan.
Baca Juga: Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor Epik Terbaru Luna Maya dan Reza Rahadian
Cerminan Hidup Sehari-Hari
Asa Jatmiko yang juga menulis naskah lakon ini mengungkapkan Para Petarung lahir dari kehidupan nyata, bukan diambil dari luar.
“Semua yang ada di atas panggung adalah refleksi dari realitas yang kita alami sehari-hari,” ujarnya.