TITIKTEMU.CO - Yogyakarta menjadi tuan rumah Festival Pertunjukan Belum-Sudah (FPB-S) atau Not-Yet Performance Festival (NYPF) 2025.Festival berlangsung hingga 31 Juli 2025.
Festival seni ini merupakan persembahan Garasi Performance Institute (GPI), yaitu wadah pertemuan seniman, peneliti, akademisi, serta publik untuk mengeksplorasi dunia seni yang belum selesai dan terus berkembang.
Bertema Gelagat Liar, festival ini membuka ruang baru bagi pertunjukan kontemporer. Gelagat Liar menggambarkan bagaimana seni lahir dari celah-celah sejarah, norma masyarakat, konflik identitas, hingga kekuasaan.
Baca Juga: Haruka Nakagawa Menangis Saat Gagal Pimpin Encore di Konser JKT48, Aksi Fans Jadi Sorotan
Menampilkan 9 Seni Pertunjukan
Festival ini menampilkan sembilan pertunjukan dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka membawa karya-karya eksperimental yang mengajak penonton untuk berinteraki langsung.
Yang Menyelinap Tak Mau Lesap dari Studio Malya, Reza Kutjh, dan Rifki Akbar Pratama di Museum Benteng Vredeburg.
Wicara Kepahitan dari Putu Alit Panca & Taman Kata-Kata, yang terinspirasi dari karya Speak Bitterness oleh kelompok seni Inggris, Forced Entertainment.
Kebun Warisan oleh Rachmat Mustamin & Studio Patodongi dari Makassar, membahas sejarah konflik Darul Islam/TII dan bagaimana mitos-mitos lokal turut membentuk memori masyarakat hingga hari ini.
Autolysis karya Enji Sekar mengangkat tema tubuh manusia melalui proses biokimia sebagai metafora dalam tarian yang berlangsung di ruangan gelap dengan pengalaman sensorik yang mendalam.
Lampiran Cyclofemmes oleh Ishvara Devi yang menggali ulang tokoh Mak Lampir dari sudut pandang transpuan dan estetika queer.
The Other Half: After-Forced dari Puri Senja mengeksplorasi hubungan antara tubuh manusia dan warisan militer yang tersisa di masyarakat kita saat ini.
24 Jam Lembâna di Jogja menjadi penutup festival dengan konsep pertunjukan nonstop selama satu hari penuh.