TITIKTEMU.CO - Kesuksesan film Jumbo ternyata menyimpan cerita pribadi dari sutradara Ryan Adriandhy. Dalam wawancara terbaru, Ryan membagikan bahwa film ini adalah bentuk penyembuhan dari luka masa kecilnya yang pernah mengalami perundungan.
Lewat media sosial, Ryan menulis:
"1995 jatuh cinta pada animasi, 2005 dibully di sekolah, 2015 belajar animasi, 2025 bikin film tentang bullying. Semuanya akan baik-baik saja."
Masa Kecil yang Tak Mudah
Ryan mengisahkan bahwa ia mulai mengalami bullying sejak sekolah dasar. Tubuhnya yang lebih cepat tumbuh rambut membuatnya jadi bahan olokan.
"Aku dipanggil Pak RT, bahkan monyet, cuma karena kumisku tumbuh duluan,” kenangnya.
Meski tampak seperti candaan, pengalaman itu menorehkan luka. Namun Ryan tidak menyimpan dendam. Ia memilih menyublimkannya menjadi karya yang berdampak.
‘Jumbo’ Sebagai Bentuk Empati
Film Jumbo lahir dari keinginan Ryan untuk menciptakan cerita yang bisa memberi ruang bagi anak-anak dan orang tua untuk berbicara tentang empati, penerimaan, dan rasa percaya diri.
Karakter dalam film pun banyak yang terinspirasi dari orang-orang di sekitarnya saat masa kecil.
“Saya ingin anak-anak yang merasa aneh atau berbeda tahu bahwa mereka tidak sendiri,” ucapnya.
Baca Juga: Kapan Idul Adha 2025? Ini Prediksi Tanggal Resmi Versi Pemerintah dan Muhammadiyah