TITIKTEMU.CO, Seperti apa seri mini-dokumenter Not Far From Home yang saat ini disiarkan di channel TV lokal TaiwanPlus? Seri ini merupakan karya sutradara Indonesia-Taiwan, Martin Rustandi, yang menyajikan eksplorasi yang penuh makna tentang pengalaman imigran Indonesia di Taiwan, memberikan perspektif baru terhadap cerita-cerita imigran.
Seperti episode 1 bertajuk “Sally’s Taste”, yang telah ditayangkan di Saluran TV TaiwanPlus adalah sebuah kisah tentang makanan Indonesia yang dibawa ke Taiwan, termasuk bumbu dan rempah-rempah asal Indonesia. Adalah sebuah film dokumenter yang sangat menyentuh hati para penonton.
“Not Far From Home” menyoroti pengalaman imigran asal Indonesia di Taiwan, yang penuh warna, namun seringkali luput dari perhatian publik. Serial ini menggambarkan perjalanan hidup mereka yang penuh transformasi, mulai dari menghadapi tantangan hingga meraih harapan - serta menyoroti perjuangan mereka dalam menggapai mimpi, ke beradaptasi secara budaya, dan membangun kehidupan baru di tanah Taiwan, yang mereka anggap sebagai rumah kedua.
Baca Juga: Promosikan Perdagangan Bilateralnya Taiwan Kembali Gelar Taiwan Expo 2024
Film dokumenter ditayangkan setiap hari Selasa sejak 21 Januari bertajuk Sally’s Taste, kemudian Selasa 28 Januari bertajuk Melati’s Moves. Untuk 3 episode berikutnya, masing-masing bertajuk: Nita’s Voice, Pindy’s Craft dan Ela & Rick’s Journey.”
Dalam episdode Melati’s Move berkisah tentang seorang guru tari tradisional Indonesia, Melati, yang kini adalah guru tari di Taipei National University of Art (TNUA). Pengambilan syuting dan editing dibuat sangat elegan dengan nilai seni kontemporer tinggi, yang menjadikannya berbeda dengan film dokumenter pada umumnya. Selain itu, sutradara Martin Rustandi juga tidak lupa memasukkan “Keseruan ala Indonesia yang terlihat asing, yang ditampilkan dari imigran asing asal Indonesia di Taiwan”. Dengan editing yang mendetail, termasuk latar lagu suara yang sarat suara gamelan kuno terpadu modern.
Pemain utama dalam episode Melati’s Move, Melati, menyoroti bahwa para penari yang terlihat di atas pentas panggung, mayoritas serba otodidak. Panggung kegiatan diibaratkan sebuah “Rumah”, yang bagi para PMI dijadikan sebagai sebuah “Tujuan lokasi”, mereka yang tertarik untuk pentas, akan rela menyediakan waktu untuk belajar menari tarian yang mungkin tidak pernah disaksikan saat masih di Indonesia.
Saat Melati memberikan masukan tentang tarian tradisional, keterikatan Melati dengan para PMI yang belajar menari pun terbentuk, dimana tali silahturahmi antar WNI di negeri orang, tepatnya di Taiwan terus bergulir cepat seirama dengan jalannya waktu. Ada asa ada rasa, paduan unik suka duka dan ragam cerita latar belakang imigran Indonesia di Taiwan, dimana Melati menyebutkan bahwa tarian sangat mudah untuk dikembangkan, hanya melalui sebuah gerakan, dan ini akan memberikan efek besar dalam bidang pengembangan diri dan sosial masyarakat.
Baca Juga: Taiwan Membantu Pembangunan Kembali PAUD Yang Rusak Akibat Gempa
“Namun sayangnya, sebegitu kegiatan pentas digelar dan selesai, maka selesai pula “Rumah” imigran Indonesia tersebut, dan mereka (Para PMI) akan berlanjut bertemu di “Rumah” lainnya di masa yang akan datang”, ujar Melati
Martin sendiri menyampaikan rasa terima kasih khusus kepada Melati, karena kisah Melati adalah kisah perdana yang disyuting, juga menjadi syutingan terakhir dalam seri mini dokumenter. Karena di tengah masa penyutingan Melati’s Move, ayah Melati yang berada di Indonesia meninggal sehingga syuting bagian akhir epidose Melati’s Move baru diselesaikan setelah kembali ke Taiwan.
Artikel Terkait
Wow! TKW Indonesia Dapat Warisan Rp 1 Miliar dari Aktor Taiwan
Suasana Mencekam ! Taiwan Dihantam Gempa Magnitudo 6.8
Usai Dihantam Gempa, Inilah Potret Kerusakan yang terjadi setelah Gempa di Taiwan. Korban Tewas 100-an Orang
Promosikan Perdagangan Bilateralnya Taiwan Kembali Gelar Taiwan Expo 2024
Mahasiswa Penerima Beasiswa Taiwan ICDF Siap Berangkat